Blusukan Presiden Rasa Gubernur

MI/ANSHAR DWI WIBOWO
30/8/2015 00:00
Blusukan Presiden Rasa Gubernur
(ANTARA/SETPRES-LAYLI)
MOBIL Mercedes Benz hitam berpelat nomor RI1 kian melambat hingga berhenti di ujung gang Jalan Narada Raya, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Hanya beberapa meter dari mobil itu, warga sudah duduk manis menunggu. Tertib, hingga paket sembilan bahan pokok dibagikan Presiden Joko Widodo.

Lawatan mantan Gubernur DKI kali ini memang sudah jauh menanggalkan status orang nomor satu di Jakarta yang pernah diembannya selama dua tahun. Namun, gaya blusukan terasa kentara.

Mengenakan pakaian putih dengan celana panjang hitam, Jokowi menyapa warga Jakarta yang berebut salaman.

Euforia masyarakat seolah mengembalikan memori beberapa tahun lalu saat sosok mantan Wali Kota Solo itu begitu populer di benak warga Jakarta.

Dengan tawa khasnya, Jokowi lebih nyaman ketika ditanya mengenai kegiatannya hari itu. Menurutnya, aksi blusukan membagikan sembako merupakan permintaan dari Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede.

"Ini hari Sabtu (jadwal) kosong. Beberapa kali saya dengan Pak Wali Kota ke daerah tidak ke kampung di Jakarta lagi. Masyarakat pingin dikunjungi, ya sudah saya kunjungi," kata Jokowi, kemarin.

Jokowi mengaku tidak ada perbedaan rasa saat blusukan sebagai gubernur atau presiden. Menurutnya, kegiatan kali ini juga merupakan kunjungan biasa ke masyarakat. Tidak ada hubungannya dengan upaya menstimulasi perekonomian yang sedang lesu.

"Ah tidak, saya berkunjung ke masyarakat saja, berkunjung karena Pak Wali Kota ingetin terus," ucapnya.

Ketika disinggung mengenai tidak dilibatkannya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Jokowi menanggapinya dengan santai. "Ah, Pak Ahok biar istirahat saja."

Blusukan kali ini mengunjungi tiga wilayah di Jakarta Pusat, yakni Kampung Rawa, Tanah Tinggi, dan Sawah Besar.

Rohmani, 54, mengaku senang dengan pembagian sembako yang berisi gula, minyak, dan beras. Menurutnya, bantuan tersebut bisa untuk tambahan memasak di dapur.

Ketika disinggung pertanyaan lain, Jokowi lebih banyak mengungkapkan ketidaktahuannya. Termasuk soal mundurnya Direktur Pelindo II, panitia seleksi KPK, proyek pembangunan gedung DPR, dan kereta cepat.

"Saya enggak ngerti. Saya enggak tahu aturan mainnya. Ada di konsultan independen dan tim penilai," pungkasnya. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya