PANITIA Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi melanjutkan wawancara kepada tujuh calon pemimpin komisi antirasywah tersebut. Pansel mendalami dari visi, misi, harta kekayaan, hingga motivasi mereka mendaftar sebagai calon pemimpin KPK.
Setidaknya, persoalan motivasi itu yang ditanyakan pansel kepada Jimly Asshiddiqie. Anggota pansel Enny Nurbaningsih yang menyinggung persoalan tersebut.
Pasalnya, pada 2008 Jimly tercatat mengundurkan diri dari status sebagai hakim Mahkamah Konstitusi. Jimly yang sebelumnya menjabat Ketua MK mengundurkan diri setelah kalah voting dari Mahfud MD untuk memimpin MK. Enny mengonfirmasikan dugaan bahwa motivasi Jimly mendaftar hanya mengincar posisi Ketua KPK.
"Dulu pernah di MK selesai 2008. Setelah Bapak terpilih, Bapak mundur konon karena Bapak bukan ketua. Takutnya nanti di KPK juga mundur tengah jalan?" tanya Eny kepada Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu tersebut.
Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu menjawab diplomatis. Ia meminta para panelis tidak lagi menanyakan itu karena dirinya akan menjelaskannya dalam proses seleksi <>fit and proper test di Dewan Perwakilan Rakyat jika terpilih. Enny tidak puas dan mencecar Jimly dengan pertanyaan yang sama. "Bagaimanapun perlu kami dapatkan klarifikasinya. Kalau Bapak bukan ketua, bagaimana?" ujarnya.
Jimly tetap berkukuh enggan memberikan jawaban. "Lebih baik saya jawabnya nanti (di DPR). Saya orangnya konsisten." "Kalau tidak sebagai ketua, artinya Bapak tidak berkehendak menjadi pemimpin sebuah lembaga," Enny kembali mencecar Jimly, yang dibalas senyum. Enny langsung menyimpulkan senyum Jimly berarti setuju dengan kesimpulannya.
Klarifikasi itu dilakukan untuk menghindari adanya pihak-pihak yang dominan karena sistem di KPK bersifat kolektif kolegial.
"Insyaallah bisa karena kolektif kolegial. Saya sudah biasa mengalami itu sejak menjadi Ketua MK dan juga DKPP, keputusan diambil bersama," ujarnya.
Seleksi calon pimpinan KPK masuk tahap akhir, yaitu wawancara mendalam. Selain Jimly dan Hendardji, pansel mewawancarai Giri Suprapdiono, Johan Budi Sapto Pribowo, Laode Muhamad Syarif, Moh Gudono, dan Nina Nurlina Pramono. Sisanya akan dilanjutkan hari ini, yakni Saut Situmorang, Sri Harijati, Sujanarko, Surya Tjandra, dan mantan Kapolda Papua Irjen Yotje Mende.
Harta kekayaan Peneliti Indonesia Corruption Watch Lalola Ester meminta agar pansel bertanya lebih dalam tentang kekayaan para calon. Ia meminta agar pansel mempertajam pertanyaan tentang asal usul harta kekayaan mereka.
Ketua Pansel Destri Damayanti mengatakan calon diberi kesempatan untuk mengklarifikasi temuan pansel. Meski demikian, ia mengaku keterbatasan waktu menyebabkan tidak semua pertanyaan bisa dilontarkan.
Sementara itu, anggota pansel Yenti Garnasih menyayangkan minimnya pengetahuan hukum para calon, terutama tentang tindak pidana pencucian uang. "Ini menyedihkan, padahal sangat krusial. KPK sendiri mengakui kekurangannya soal pencucian uang," cetusnya. (P-4)