Perbedaan Jadi Kekuatan Indonesia

Nur Aivanni
16/8/2015 00:00
Perbedaan Jadi Kekuatan Indonesia
Mochtar Pabottingi, Peneliti senior LIPI(MI/Panca Syurkani)

BANGSA Indonesia sudah terbiasa hidup dalam perbedaan. Karena itu, isu-isu mengenai perbedaan yang kerap dihembuskan pihak tertentu sulit untuk meretakkan persatuan yang telah terbangun.

"Bangsa kita jauh sebelum kemerdekaan 70 tahun lalu sudah terbiasa hidup dalam suasana perbedaan dan terbiasa menghadapi serta mengelola perbedaan itu," kata peneliti senior LIPI Mochtar Pabottingi dalam diskusi bertema Membaca 70 tahun Indonesia di Jakarta, kemarin.

Selain Mochtar, hadir juga beberapa pembicara dalam diskusi tersebut. Mereka ialah wartawan senior Kompas Ninok Leksono, peneliti Survei Meter Teguh Yudo, dan pengamat politik dari Populi Center Nico Harjanto.

Menurut Mochtar, dengan bekal sejarah yang cukup mumpuni itu, pemerintah tidak perlu takut dalam menghadapi gejolak perekonomian saat ini, baik secara global maupun regional.

"Kita tidak perlu takut, tapi perlu tetap berhati-hati karena modal kita sebagai bangsa sangat kuat," katanya.

Keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar, imbuhnya, merupakan modal yang sangat baik untuk menerima hantaman dari luar dengan solusi yang cerdas.

"Salah satunya, ketika sistem demokrasi muncul yang langsung dicerna baik oleh bangsa kita, begitu juga ketika Soekarno-Hatta mencerna gagasan dasar bangsa ini dalam bentuk Pancasila," paparnya.

Selain itu, kata dia, langkah pemerintah menerapkan sistem desentaralisasi tidak akan memecah-belah bangsa Indonesia. Apalagi, saat menyampaikan rancangan APBN 2016, Presiden Joko Widodo lebih menekankan soal pertumbuhan di daerah serta memberikan kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengurusi rumah tangga sendiri.

Sementara itu, Ninok Laksono mengatakan perbedaan merupakan penghargaan tertinggi yang dimiliki Indonesia sejak merdeka hingga saat ini.

Kepiawaian para pemimpin dalam mengelola perbedaan tersebut telah membuat negara ini sulit dipecah belah.

"Saya bertemu dengan seorang profesor dari Columbia University yang kagum dengan Indonesia. Enggak mungkin perbedaan dikelola sebaik itu. Itulah achievement 70 tahun Indonesia," katanya.

Empat hal

Ada pertanyaan besar di saat kita memperingati 70 Indonesia, yakni mengapa bangsa ini belum bisa disebut sebagai negara hebat?

Menurut Ninok, ada empat hal yang masih menjadi catatan bagi pemerintah untuk ditingkatkan.

"Politik yang kukuh, ekonomi yang stabil, militer yang perkasa, dan teknologi yang unggul," ujarnya.

Menurut dia, keempat poin itu perlu diperhatikan serius oleh pemerintahan Jokowi jika ingin Indonesia sejajar dengan negara-negara lain. Pasalnya, keempat hal itu berkorelasi.

"Coba perhatikan, mana ada negara maju yang ekonominya bobrok, militernya lemah, dan ipteknya ketinggalan?"

Ia secara khusus menyoroti perkembangan teknologi di Tanah Air.

Di satu sisi, pemerintah menginginkan percepatan alih teknologi, tetapi di sisi lain anggaran yang digelontorkan untuk biaya riset hanya sekitar 0,08% dari total produk domestik bruto (PDB).

"Selain itu, ada paradigma yang salah dalam hal teknologi, seperti kalau bisa beli kenapa bikin, kalau bisa beli murah kenapa tidak dimahalin. Kondisi ini bisa dibenahi kalau mental dan budaya kita diperbaiki," tukasnya.

(P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya