Diskriminasi pada Agama Minoritas masih Terjadi

MI
29/8/2016 07:50
Diskriminasi pada Agama Minoritas masih Terjadi
(Dok.MI)

AKAR toleransi beragama di masyarakat sebenarnya masih kuat. Sikap toleransi dalam kebinekaan pun masih sangat kental. Akan tetapi, diskriminasi antarumat beragama di Indonesia masih kerap saja terjadi hingga puncaknya berada pada kriminalisasi terhadap mereka yang berbeda agama.

Program Officer Advokasi Hukum Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Adiani Viviani mengatakan diskriminasi itu di antaranya terjadi akibat lemahnya penegakan hukum dan adanya reaksi yang berlebihan terhadap suatu agama.

Sebagian besar kekerasan terhadap etnik tertentu dan agama minoritas terjadi karena andil pemerintah daerah. "Temuannya itu mirip-mirip, biasanya ada wali kota atau bupati tertentu yang mendukung suatu kelompok organisasi intoleran. Karena merasa didukung kepala daerah, mereka yakin mendapat pembiaran bila melakukan kekerasan ke pemeluk agama minoritas," ujarnya di Jakarta, kemarin (MInggu, 28/8).

Aktivis Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika Nia Sjarifuddin menyampaikan penting bagi setiap pemimpin daerah untuk menyingkirkan bibit-bibit intoleransi. "Jangan terlalu mudah untuk mengafirkan ajaran lain, sekarang ini baru sedikit-sedikit saja sudah dibilang sesat. Pemimpin daerah harus bisa menguatkan ruang solidaritas," ujar dia.

Elsam mencatat hingga Agustus 2016 sudah lebih dari 50 kasus kekerasan terhadap kelompok etnik dan agama minoritas terjadi di seluruh Indonesia. Tidak sebatas dalam keberpihakan sikap. Peradilan pun tidak terbebas dari diskriminasi agama minoritas.

"Polanya begitu, diawali keberpihakan atau statement dukungan pimpinan daerah ke kelompok intoleran. Ketika dibawa ke meja hijau pun, pelaku kekerasan kepada kaum minoritas bahkan bebas jeratan masih sangat sering ditemui," ujar Adiani.

Sementara itu, 150 jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Kota Bogor, dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia, Kabupaten Bekasi, beribadah di seberang Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

Pada gelaran ibadah ke-125 itu harapan jemaat itu masih sama, yakni bisa kembali beribadah di gereja masing-masing. (Jay/Mlt/Aya/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya