Pleidoi Freddy Budiman Misterius

Nicky Aulia Widadio
23/8/2016 06:20
Pleidoi Freddy Budiman Misterius
(Tim Independen Pencari Fakta Gabungan yang diketuai Irwasum Polri Komjen Dwi Priyatno---ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

TIM Independen pencari fakta yang dibentuk Polri untuk menelusuri testimoni gembong narkoba Freddy Budiman, menggali informasi dari pengacara Freddy, kemarin (Senin, 22/8). Fakta-fakta yang dicari terutama terkait pleidoi Freddy yang ditulis pada 2013 lalu.

Dalam testimoninya kepada Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar, pada 2014 silam, Freddy menyebutkan kesaksiannya telah ia tuliskan di dalam pleidoi. Kesaksian itu tentang aliran dana ke sejumlah pejabat Polri, BNN, dan TNI.

Namun, juru bicara Tim Independen Hendardi dari Setara Institute mengatakan di dalam pleidoi tersebut tidak tercantum hal-hal yang dimaksud Freddy. "Tidak ada sama sekali. Hanya normatif pembelaan hukum agar dibebaskan dari tuntutan hukum."

Untuk itu, Tim Independen menemui pengacara Freddy untuk menggali lebih jauh mengenai proses penyusunan pleidoi tersebut. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar menyebutkan pengacara yang ia sebut berasal dari kantor hukum G&A itu merupakan penasihat hukum yang terakhir membantu Freddy menyusun pleidoi.

Sejauh ini, Tim Independen yang juga terdiri atas pegiat HAM Poengky Indarti dan pakar komunikasi politik UI Effendi Ghazali telah mengonfirmasi pertemuan Freddy dan Haris.

Pertemuan itu berlangsung pada masa Pemilu 2014 di LP Nusakambangan, Cilacap, Jateng. Haris didampingi Kepala LP Liberti Sitinjak, John Kei, Pendeta Andreas, dan Suster Yani. Namun, tim baru meminta keterangan dari John Kei dan Pendeta Andreas.

Terpisah, Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyebutkan TNI masih menyelidiki keterlibatan anggota TNI. Berdasarkan cerita Haris, selain menyuap aggota BNN dan polisi, Freddy pernah membawa narkoba dengan mobil fasilitas TNI berbintang dua. Perwira tinggi TNI itu bahkan duduk di sampingnya saat menyetir dari Medan sampai Jakarta.

Menurut Gatot, jika merujuk pada keterangan Haris yang menyebut kejadian itu terjadi pada 2011, jenderal berbintang dua yang masih aktif hanya dirinya.

"Karena itu pada tanggal 27 April 2011 yang paling muda, hanya saya yang sudah bintang dua. Sekarang ini yang masih aktif tinggal saya, lainnya sudah purnawiraan," ujar Gatot, di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, kemarin. Meski begitu, ia memastikan TNI akan bekerja sama dengan Polri dalam penyelidikan. (Nic/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya