KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj yakin konflik di tubuh Nahdlatul Ulama pascamuktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur, tidak akan berlanjut karena hal tersebut sebagai sebuah dinamika organisasi yang demokratis.
"Semua pihak akan menerima hasil muktamar ke-33 di Jombang dan tidak ada yang menggugatnya," katanya seusai acara halalbihalal Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiah Kaaffah di Ponpes Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Said pun berjanji akan merangkul semua pihak, termasuk yang menolak hasil muktamar.
"Saya yakin konflik tidak berlanjut dan tidak akan ada yang menggugat hasil muktamar," ucapnya. Ia menambahkan, konflik di tubuh NU yang muncul dalam muktamar itu sekadar emosi sesaat. Ia menuturkan, konflik dapat diartikan sebagai bagian dari dinamika berorganisasi dan bukan kemarahan atau permusuhan sejak lama. Menurut dia, hal itu biasa terjadi di kalangan NU sehingga tidak akan berkembang menjadi masalah besar.
Sebelumnya, dalam Muktamar NU tersebut, sempat muncul isu adanya tuntutan dari sebagian muktamirin agar muktamar diulang dengan alasan tidak berjalan demokratis. Bahkan, ada upaya dari pihak tertentu untuk memerkarakannya di pengadilan. Fokus berkiprah Keyakinan dan harapan yang sama terhadap kondisi internal NU juga disampaikan Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid. Dia mengimbau seluruh pengurus NU, dari pengurus besar sampai ranting, agar kembali fokus melakukan pendampingan dan pelayanan terhadap warga nahdliyin dan tidak perlu lagi memperpanjang urusan (konflik) di muktamar ke-33.
"Urusan muktamar NU sudah selesai. Umat sudah menanti kiprah NU yang lebih konkret dalam menjawab perubahan dan dinamika masyarakat," ujar Nusron yang juga menjadi salah seorang anggota formatur dalam muktamar ke-33 di Jombang, kemarin.
Sebagai organisasi keagamaan terbesar dan sudah berpengalaman, menurut Nusron, NU sudah terbiasa menghadapi perbedaan pendapat dan dinamika pemikiran. "Di NU, ada beragam model tokoh. Kalau ada konflik dan gesekan, itu biasa. Nanti sejalan dengan waktu, juga akan baik lagi. Saat ini, bangsa Indonesia dan dunia butuh NU. Sudah saatnya untuk bersatu dan bersinergi," tegasnya.
Namun, kalau masih ada pihak yang kecewa dan ingin menggugat hasil kuktamar, lanjut Nusron, itu bukan cerminan sikap NU. "Saya tidak yakin Pak Hasyim (Muzadi) akan melakukan itu. Beliau orang hebat, pasti legowo. Beliau tokoh besar, sudah banyak membangun NU, tidak mungkin akan merusaknya," kata Nusron.
Dia menjelaskan, voting dengan 252 suara yang mendukung Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) melawan 235 suara menandakan bahwa sebagian besar memang tidak menghendaki beliau menjadi Rois Aam. "Maqom-nya beliau memang tidak di situ. Ini jalan dan ketentuan Allah SWT. Saya yakin kalau pemilihan pun, yang tidak setuju AHWA belum tentu memilih Pak Hasyim," tuturnya menjelaskan.
Daripada ribut mempersoalkan hasil muktamar, lebih baik NU fokus mengatasi gagal panen para petani akibat kemarau panjang ini. (P-2)