Perang Pantun Hangatkan Persaingan di Denpasar

OL/P-1
09/8/2015 00:00
Perang Pantun Hangatkan Persaingan di Denpasar
(ANTARA/FIKRI YUSUF)
PANTUN dibalas pantun.

Itulah yang tengah terjadi di Kota Denpasar, Bali, saat ini.

Berawal dari pantun bernuansa politik yang dilontarkan Sekretaris Kota Denpasar AAN Rai Iswara, saling serang lewat pantun kini mulai menghangatkan persaingan antarkandidat calon Wali Kota Denpasar.

"Apabila ada sumur di ladang/Bolehkan aku menumpang mandi/Apabila Tuhan berkenan/Bolehlah Pak Wali dan Pak Wakil memimpin kami kembali," begitu bunyi pantun Rai Iswara di hadapan sekitar 7.000 PNS di lingkung-an Pemkot Denpasar, Senin (3/8) lalu.

Rai pun terpaksa harus berurusan dengan Panwaslu se-tempat akibat pantunnya tersebut menyangkut netralitas PNS dalam pemilihan kepala daerah (pilkada).

Ia dituduh mendukung pasangan Ida Bagus Rai Wijaya Mantra-IGN Jaya Negara yang merupakan pasangan petahana.

Tak mau kalah, kubu seberang, pasangan I Ketut Suwandhi-I Made Arjaya, pun melontarkan pantun perlawanan.

"Jalan-jalan ke Semara pura/Beli benang sambil berjabat tangan/Selamat jalan Dharma-Negara/Semoga tenang di akhir masa jabatan," ucap I Wayan Mariyana Wandhira, ketua tim pemenangan I Ketut Suwandhi-I Made Arjaya.

Belakangan, pasangan itu menyatakan mundur dari pencalonan mereka dengan alasan adanya pengerahan PNS oleh pasangan petahana dalam pilkada.

Pantun balasan itu disampaikan Wandhira, baik melalui media sosial maupun secara terbuka dalam berbagai pertemuan.

Tak lama berselang, akun Facebook dan Twitter milik warga Denpasar langsung diramaikan oleh pantun-pantun politik.

'Kunang-kunang padi braya titi banda/Sagu manis jeruk peras/Kemengan Suwandhi-Arjaya memang tertunda/Kita tunggu di 2017', tulis Wandhira yang juga Ketua DPD II Golkar Kota Denpasar di akun Facebook-nya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya