Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
NAHDLATUL Ulama ke depan menghadapi tantangan yang sangat besar, yakni kondisi keagamaan dan sosial politik yang terjal. Karena itu, nahdliyin (warga NU) harus bersatu menyikapi hal tersebut.
Demikian dikatakan KH Ma'ruf Amin dalam sambutannya seusai ditetapkan sebagai Wakil Rais Aam Syuriah PBNU 2015-2020 pada Muktamar Ke-33 NU di Alun-Alun Jombang, Jawa Timur, tadi malam.
"NU akan menghadapi potensi penyim-pangan ajaran Islam dan berbagai tantangan lain baik ekonomi, politik, sosial, maupun budaya menjadi sesuatu sangat berat untuk nahdliyin. Mari kita besarkan dan kuatkan jamiah NU. Juga mengajak masyarakat menguatkan kembali kepemimpinan para ulama seperti yang digariskan pendiri NU," ujar KH Ma'ruf Amin.
Sebelumnya, tim ahlul halli wal 'aqdi (AHWA) yang beranggotakan sembilan ulama memutuskan memilih KH Mustofa Bisri alias Gus Mus sebagai Rais Aam Syuriah NU dan KH Ma'ruf Amin sebagai Wakil Rais Aam untuk masa khidmat 2015-2020.
Hasil sidang AHWA disampaikan Ketua Panitia Lokal Muktamar Ke-33 NU Syaifullah Yusuf.
Wakil Gubernur Jawa Timur yang akrab disapa Gus Ipul itu juga menjelaskan Gus Mus sebenarnya mengirimkan surat ke AHWA bahwa dirinya tidak bersedia dicalonkan sebagai rais aam. Namun, AHWA tetap memilih Gus Mus. Pasalnya, surat Gus Mus ke AHWA dinilai bukan menolak amanah, melainkan sebagai bagian menjaga akhlak yang mulia (akhlakul karimah).
"Bila KH Mustofa Bisri masih tetap tak bersedia, misalnya, penggantinya ialah KH Ma'ruf Amin," ujarnya.
Tim AHWA atau sembilan formatur diusulkan pengurus wilayah dan pengurus cabang. Mereka berasal dari kiai sepuh.
Sidang pleno dilanjutkan dengan pemilihan Ketua Umum Tanfidziah PBNU periode 2015-2020. Hingga pukul 23.00 WIB, panitia masih memverifikasi pemilik suara yang terdiri atas pengurus wilayah dan cabang.
Cacat hukum
Kegaduhan muktamar berlanjut. Calon Ketua Umum PBNU KH Salahuddin Wahid alias Gus Solah menyatakan mundur dari pencalonan karena menilai muktamar kali ini cacat hukum atau tidak sesuai AD/ART NU. Pengasuh Ponpes Tebuireng itu juga menolak hasil pemilihan rais aam, termasuk pemilihan ketua umum.
"Kalau mekanisme sudah cacat hukum, berarti rais aam yang terpilih juga cacat hukum. Ketua tanfidz yang dipilih dan direstui oleh rais aam berarti juga cacat hukum," cetus Gus Solah.
Menurut dia, munculnya sembilan nama kiai sebagai anggota AHWA sebagai sesuatu yang tiba-tiba, termasuk susunan nama 39 kiai sebelumnya.
"Semestinya harus ada pendaftaran dulu, baru dipilih dari semua kiai yang daftar menjadi sembilan nama," imbuhnya.
Dengan mundurnya Gus Solah, berarti ada dua calon yang akan memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU, yakni KH Said Aqil Siradj dan KH As'ad Said Ali.
Muktamar organisasi Islam terbesar itu juga mengeluarkan sejumlah rekomendasi dalam Forum Bahtsul Masail.
Saat menanggapi sikap Gus Solah dan kubunya, intelektual muda NU Zuhairi Misrawi memandangnya sebagai hal yang lumrah.
"Hal ini biasa dalam sebuah muktamar. Ketika saya menjadi panitia muktamar tahun 2004-2009, juga ada pihak yang kecewa karena kalah. Cuma bedanya sekarang ini ada kecenderungan mobilisiasi," jelasnya.
(AB/FL/Uta/X-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved