Soal Setoran Freddy Budiman Upaya Hancurkan Kepercayaan Publik Terhadap Penegak Hukum

Akmal Fauzi
31/7/2016 23:36
Soal Setoran Freddy Budiman Upaya Hancurkan Kepercayaan Publik Terhadap Penegak Hukum
(MI/Susanto)

PERNYATAAN Freddy Budiman yang disampaikan Haris Azhar Azis soal suap ke penegak hukum dipertanyakan. Ungkapan itu dianggap upaya menghancurkan kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.

Hal itu disampaikan eks Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Benny Mamoto. Orang yang pernah mengungkap aksi gembong narkoba itu menyangkan apa yang dikatakan Haris.

"Itu bentuknya sudah menuduh. Ini tentu memperihatinkan. Ini menghancurkan kepercayaan publik ke institusi penegak hukum. Dan untuk pembuktiannya itu sulit, sumber informasinya sudah meninggal," kata Benny, Minggu (31/7).

Harusnya, kata Benny, jika ingin membongkar kejahatan yang dilakukan institusi penegak hukum seperti yang diceritakan Freddy, dilakukan jauh sebelum eksekusi mati dilakukan.

"Sekarang kita tanya balik dia, kenapa seminggu sebelumnya enggak dibuka (ke publik). Maka ada kesempatan aparat menyelidiki," jelasnya.

Ia pun mempertanyakan isi dalam testimoni yang dikeluarkan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) itu. Dalam testimoni itu, kata Benny, Haris menyebutkan bahwa BNN membawa Freddy ke Tiongkok untuk menunjukan pabrik narkotika di sana.

"Mana bisa dia terbang ke sana (Tiongkok). Berkhayal aja. Yang terjadi sesungguhnya, penyidik dari Tiongkok datang ke Lapas Cipinang untuk memeriksa Freddy terkait berkas perkara tersangka 1,4 juta butir pil ekstasi sekitar tahun 2012 akhir. (Tersangka) itu satu jaringan dengan Freddy," jelas Benny.

Kejanggalan lain dalam informasi yang diberikan Haris itu mengenai tidak mampunya ia mencari pledoi atau pun pengacara Freddy saat ingin menelusuri fakta suap yang diberikan ke aparat penegak hukum.

"Kalau memang sudah diungkap di pledoi saat persidangan itu tentu sudah ramai di media. Wartawan pasti mengkonfirmasi kesaksian Freddy di persidangan (yang menyebut suap). Tapi ini aneh, enggak ada satu pun yang beritakan itu. Harusnya di media ramai. Tentu ini lucu," ujarnya

Benny meyakini apa yang dilakukan Haris tentunya sudah diperhitungkan dan ada niat untuk mempengarui ihwal kebijakan eksekusi mati.

"Kalau memang ada itikad baik ungkap itu setelah dia dapan informasinya, jangan disimpen dan diungkap saat (Freddy) sudah dieksekusi mati. Itu sengaja disebar saat eksekusi mati dilakukan. Itu sudah menuduh," tegasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya