Kader Bela Negara Bisa Jadi Intelejen Pertahanan

Arif Hulwan
31/7/2016 21:17
Kader Bela Negara Bisa Jadi Intelejen Pertahanan
(MI/M.Irfan)

KEINGINAN Kementerian Pertahanan untuk memiliki intelejennya sendiri mendapat sokongannya dari 2,7 juta alumni kader Bela Negara. Mereka sudah diajari menjadi pengumpul informasi yang memiliki kepekaan situasi. Pembentukan Badan Intelejen Pertahanan pun terus berproses.

"Ya, apapun juga ceritanya (kader Bela Negara) bisa juga digunakan. Karena dia sudah mempunyai kemampuan Bapulket (Badan Pengumpul Keterangan). Itu intelejen dasar," ujar Mayjen Hartind Asrin, Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Kemenhan, di Komplek Pusdiklat Bela Negara Kemhan, Rumpin, Bogor, Minggu (31/7).

Itu dikatakannya seusai menutup pendidikan dan pelatihan Bela Negara bagi 216 anggota ormas Barisan Patriot Bela Negara, yang merupakan LSM pertama yang jaid peserta program tersebut. Ormas ini menggenapkan angka kader Bela Negara menjadi 2,7 juta orang. Badiklat Kemenhan sendiri menargetkan peningkatan jumlah kader menjadi 4 juta pada Desember 2016.

Selain pengetahuan dasar wawasan kebangsaan dan nilai dasar Bela Negara, Hartind menjelaskan, para kader juga diberikan pengetahuan dasar intelejen. Salah satu yang diajarkan ialah tentang Bapulket. Ini mencakup kepekaan terhadap situasi, kemampuan menuliskan laporan kepada aparat terdekat, hingga pengecekan kebenaran sumber berita.

"Kalau nemu teroris enggak masa bodo lagi. Di sini diajarin lapor cepat, kepekaan. Cara lapornya diajarin. Mereka udah jago, bagaimana A1, A2," imbuh dia, yang juga memberi materi intelejen bagi para kader itu.

Pihaknya mengharapkan, kader Bela Negara, khususnya dari kalangan ormas ini yang kebanyakan berprofesi sangat merakyat, seperti tukang ojek, pedagang kaki lima, akan jadi ujung tombak informasi situasi yang berkembang sat kembali di daerahnya.

"Intelejen itu kan untuk kecepatan bertindak. Kalau informasinya cepat, tindakan juga cepat. Itu kita latih, mereka akan larut di kehidupan berbangsa bernegara," kata perwira yang pernah menjabat bidang intelejen sebagai Asintel Kasdam VI/Tanjungpura dan Waasintel Kasdivif 1/Kostrad TNI AD itu.

Tentang proses pembentukan intelejen pertahanan itu sendiri, Hartind menyebut bahwa tahapannya sudah dimudahkan dengan penambahan posisi bagi sejumlah perwira bintang satu dan bintang dua di Badan Instalasi Strategis Nasional (Bainstranas) Kemenhan. Kebijakan penambahan itu sudah direstui Kemenpan RB.

"Paling nanti (Bainstranas) di-match jadi Badan Intelejen Pertahanan. Orangnya cukup posisinya cukup," ungkapnya.

Sebelumnya, Menhan Ryamizard Ryacudu berkukuh untuk memiliki intelejen sendiri lantaran tak bisa menarik BAIS dari TNI. Ketua Setara Institute Hendardi menyebut, rencana tersebut tidak berbasis pada perencanaan dan mandat reformasi pertahanan dan militer sebagaimana yang diamanatkan UU Pertahanan dan UU TNI. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya