Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) masih mencari keberadaan Royani, sopir Sekretaris Agung Nurhadi Abdurrachman. Terlebih, setelah pimpinan KPK meneken surat perintah penyelidikan terhadap Nurhadi.
"Nah itu dia. Yang jelas, kita masih berusaha mencari info-info itu," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di kantornya, Selasa (26/7).
Dia belum bisa bicara banyak apakah saksi kunci dugaan keterlibatan Nurhadi dalam beberapa perkara ini masih berada di dalam atau luar negeri.
"Kalau di teman-teman (ada info) dikasih taulah ya," jelas dia.
Mantan Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi DKI Jakarta itu pun memastikan KPK juga masih mengupayakan pemeriksaan terhadap empat polisi ajudan Nurhadi. Pasalnya, empat orang itu diketahui sedang bertugas di Poso.
"Ya sebetulnya itu kan dari kepolisian kita sudah berkoordinasi, silahkan diperiksa. Tentu penyidik kami akan menindaklanjuti. Katakan di Poso lah ya, tentu kita akan kirim ke sana," papar dia.
Diketahui, Nurhadi terseret dalam suap pengurusan perkara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang terungkap dari operasi tangkap tangan pada 20 April lalu. KPK menangkap Panitera/Sekretaris PN Jakpus Edy Nasution dan Direktur PT Kreasi Dunia Keluarga Doddy Aryanto Supeno.
Saat ditangkap, Edy diduga telah menerima uang sebesar Rp50 juta dari Doddy. Namun, sebelumnya, dia diduga menerima Rp100 juta dari Doddy.
Usai penangkapan itu, KPK bergerak cepat mengembangkan perkara. Mereka menggeledah sejumlah tempat, termasuk kantor dan rumah Nurhadi.
Lembaga Antikorupsi itu menemukan dan menyita uang dalam bentuk beberapa mata uang asing senilai Rp1,7 miliar. Wakil Ketua KPK Laode Muhamad Syarif menyebut uang tersebut diduga terkait suatu perkara.
KPK tengah menelusuri keterkaitan uang tersebut dengan kasus suap ini. Tidak tertutup kemungkinan ada keterkaitan secara tidak langsung antara Edy dan Nurhadi.
Dalam penelusuran, KPK juga memanggil Royani, sopir Nurhadi. Namun, Royani tidak pernah memenuhi panggilan penyidik hingga dicegah untuk bepergian ke luar negeri selama enam bulan sejak 4 Mei 2016.
Royani menghilang setelah KPK mengungkap kasus suap ini. KPK sampai saat ini masih terus mencari tahu keberadaan Royani yang diduga bisa mengungkap keterkaitan Nurhadi dalam perkara ini.
KPK juga memburu empat polisi yang jadi ajudan Nurhadi. Anggota Korps Bhayangkara tersebut adalah Brigadir Polisi Ari Kuswanto, Brigadir Polisi Dwianto Budiawan, Brigadir Polisi Fauzi Hadi Nugroho, dan Ipda Andi Yulianto.
Mereka beberapa kali dipanggil, namun selalu mangkir. Rupanya, mereka sedang ditugaskan ke Poso masuk dalam Satgas Operasi Tinombala untuk menangkap kelompok teroris Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. (MTVN/OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved