Reshuffle Momentum Lakukan Konsolidasi Kerja

Arif Hulwan
25/7/2016 22:03
Reshuffle Momentum Lakukan Konsolidasi Kerja
(Ilustrasi---MI)

DIREKTUR Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari meminta perombakan kabinet kali ini digunakan Presiden Jokowi untuk melakukan konsolidasi kerja. Ini bakal menggenapkan konsolidasi parlemen dan konsolidasi dukungan rakyat sudah berpihak kepadanya.

"Reshuffle ini harus berujung pada konsolidasi kerja. Kalau tidak, sia sia kepercayaan dari rakyat," ucapnya, Senin (25/7).

Konsolidasi di parlemen itu sendiri berbentuk mayoritasnya dukungan parlemen pasca-bergabungnya Partai Golkar ke sisi Pemerintah. Konsolidasi dukungan masyarakat datang dari tingkat kepuasan publik terhadap kerja-kerja Jokowi yang terus menanjak berdasarkan hasil sejumlah survei baru-baru ini.

Menurut Qodari, konsolidasi kerja kabinet Jokowi-JK sejauh ini belum menunjukkan efektivitasnya. Karena itu, di kesempatan eprombakan kabinet kali ini, Jokowi perlu memperhatikan dua hal utama dalam memilih pembantunya.

Pertama, memilih orang yang tepat di bidangnya. Ini terkait dengan sisa waktu Kabinet Kerja yang tinggal 2,5 tahun. Jokowi butuh Menteri yang memiliki kepakaran yang siap nyetel bekerja di kementeriannya. "Kalau bukan pakar di bidangnya, dia akan kerja dari titik nol. Sisa waktu tungga sedikit. Kalau pakar tidak perlu. Langsung bekerja," jelasnya.

Kedua, memilih orang yang punya loyalitas 100% kepada Jokowi. "Enggak boleh kalau ada apa-apa lapornya bukan ke Presiden," cetus dia.

Qodari meyakini soal perombakan kabinet ini bakal dilakukan dalam waktu dekat. Itu didasarkan atas indikasi politik dan kultural. Indikasi politik itu terdiri atas keluarnya arahan kepada para menteri untuk tidak berdinas di luar kota pada 25-29 Juli, Golkar yang bersiap-siap meresmikan dukungan kepada Pemerintah Jokowi-JK dan kepada Jokowi sebagai capres di Pilpres 2019, serta pemilihan Kapolri--sebagai pilar stabilitas politik--yang lancar di DPR.

"Surat Mensesneg itu sah sebagai sinyal kuat untuk terjadinya reshuffle," katanya.

Indikasi kultural, lanjut dia, ialah kecenderungan Jokowi yang memilih hari baik dalam penanggalan Jawa untuk membuat keputusan penting. Qodari mencontohkannya dengan hari pelantikan Jokowi sebagai Presiden, hari pengumuman perombakan kabinet pertama. Kesemuanya dilakukan pada Rabu Pon. Di sisi lain, salah satu hari diantara tanggal 25-29 Juli ada satu Rabu Pon.

"Bukan mustahil reshuffle pada Rabu Pon ini (27/7). Itu dari kacamata kultural," tutup Qodari. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya