Isu Kekerasan HAM Rentan Disintegrasi

MI/(Nyu/MS/MC/P-4).
26/7/2015 00:00
Isu Kekerasan HAM Rentan Disintegrasi
(MI/M Irfan)
MENTERI Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan toleransi diperlukan untuk menjaga kedamaian antarumat beragama. Kejadian di Tolikara tidak boleh terulang, termasuk di daerah lain. "Intinya, harus membangun toleransi, gotong royong, kalau ada yang mau bangun musala ya diijinkan. Termasuk agama lain, kalau ada yang mau bangun gereja," ucapnya di Bangkalan, Jawa Timur, kemarin.

Tjahjo menjelaskan, keyakinan beragama merupakan hak setiap warga negara yang sesuai dengan konstitusi. Untuk itu, negara harus menjamin kebebasan rakyat untuk memilih agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. "Urusan agama dan keyakinan itu terserah masyarakat, tugas pemerintah harus hadir, mengayomi," jelasnya.

Ia pun mengingatkan agar kejadian di Tolikara tidak kembali terulang. Pasalnya, ada indikasi kuat bahwa ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi itu dengan memecah-belah persatuan agar bisa memisahkan Papua dari NKRI. Ia menyebut, kasus Tolikara tidak berbeda jauh dengan asal-muasal pecahnya Timor-Timur dari Indonesia, yakni dengan memanfaatkan isu kekerasan HAM.

"Sejarah papua tidak ada konflik soal agama, nah ini Timor-Timur kenapa lepas, modelnya sama dengan Tolikara, ini yang harus disadari pejabat pemerintah, tokoh agama, dan mahasiswa, karena ini menyangkut kedaulatan dan keutuhan NKRI," tuturnya. Sementara itu, John Murib, salah seorang warga Sorong mengatakan, selama ini kehidupan umat beragama di Papua sangat damai karena semua umat beragama masih ada hubungan keluarga lewat pernikahan.

Untuk itulah, ia menilai pembakaran 60 kios dan satu musala tersebut tidak biasa sehingga dapat diduga pasti ada orang yang menjadi provokator. Ia berharap, kasus itu tidak boleh terulang. Harus ada tindakan tegas terhadap pelaku kerusuhan. "Saya minta agar kasus itu jangan terulang lagi, yakni dengan menindak tegas pelaku," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mengaku tengah menyelidiki aktor intelektual di balik insiden kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua, yang mengakibatkan satu tempat ibadah terbakar. Sebelumnya, Badrodin mengatakan salah satu indikasi adanya aktor intelektual ialah adanya perubahan jadwal acara Kebangkitan Kebangunan Rohani (KKR) yang bersifat internasional yang akan diselenggarakan pada 22-27 Juli, tapi dimajukan menjadi 13-19 Juli.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya