Jenazah Diduga Santoso Jalani Tes DNA

Rudy Polycarpus
19/7/2016 08:21
Jenazah Diduga Santoso Jalani Tes DNA
(ANTARA/Basri Marzuki)

PEMIMPIN kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur Santoso diduga tewas dalam sebuah baku tembak di Poso, Sulawesi Tengah, pukul 17.30 Wita, kemarin.

Untuk mengklarifikasi lebih jauh identitasnya, jenazah yang diduga Santoso itu akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu untuk dites.

Santoso ialah target utama anggota Polri dan TNI yang tergabung dalam satuan tugas (satgas) Operasi Tinombala.

Operasi itu merupakan kelanjutan dari Camar Maleo yang sudah berlangsung selama setahun.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, selain Santoso, ada satu korban lainnya yang juga tewas dan tiga lainnya melarikan diri.

"Memang ada tanda tahi lalat yang menjadi ciri khas Santoso. Saat ini, sedang diidentifikasi. Mudah-mudahan itu yang bersangkutan," ujar Tito.

Menurut Tito, tiga tersangka, yakni dua perempuan dan seorang lelaki yang kabur, kini sedang dikejar.

"Tidak ada polisi yang terluka dalam operasi tersebut," ujarnya.

Kepala Polda Sulteng Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadi juga belum bisa memastikan Santoso termasuk yang tewas.

"Semua bilang ciri-cirinya mirip Santoso. Yang jelas saya akan pastikan lebih dahulu. Ini sedang dievakuasi dan nanti harus tes DNA untuk memastikan identitasnya," imbuh Rudy.

Operasi baku tembak itu bermula dari patroli yang dilakukan tim Alfa 29 dari kesatuan TNI di seputaran tempat kejadian perkara.

Patroli tersebut kemudian melaporkan bahwa telah terjadi baku tembak di titik koordinat UTM: 20.27_6511 (Desa Tambarana) dengan lima anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Baku tembak yang terjadi hampir setengah jam itu menyebabkan dua anggota MIT yang berjenis kelamin laki-laki tewas.

Selain itu, tim Alfa 29 mengamankan satu pucuk senjata api organik jenis M 16 beserta beberapa selongsong amunisi dan amunisi aktif.

Kabid Humas Polda Sulteng AKB Hari Suprapto menambahkan, proses evakuasi masih dilakukan di tempat kejadian perkara dan belum bisa dipastikan kapan proses evakuasinya selesai.

"Medannya cukup sulit di sana. Yang pasti kalau proses evakuasi selesai, kedua jenazah langsung diberangkatkan ke RS Bhayangkara di Palu untuk proses identifikasi."

Beri masukan

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir akan memberi masukan kepada pemerintah dan parlemen terkait dengan Revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

"Kami beri masukan adakan diskusi bersama untuk perspektif menyeluruh dengan semangat sama, yaitu mencegah terorisme berbasis radikalisme agama dan sosial," kata Haedar.

Muhammadiyah mendorong agar regulasi antiterorisme tidak menyamaratakan kaum atau agama tertentu.

Pemetaan kantung teroris harus dilakukan secara seksama, tidak serampangan, sehingga penanggulangan teroris dapat terlaksana secara efektif dan efisien tidak asal tangkap.

"Perlu dipahami bahwa terorisme muncul dari banyak faktor seperti kesenjangan ekonomi, marginalisasi kelompok masyarakat tertentu, perlakuan sistem yang tidak adil, dan faktor lainnya."

Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakan juga turut berupaya menekan pertumbuhan terorisme terutama yang bersumber dari radikalisme.

Menurut Haedar, salah satu kekuatan Muhammadiyah dalam membendung terorisme ialah di ranah pendidikan.

Muhammadiyah juga memiliki akses pendidikan keluarga guna membendung radikalisme agama dan sosial.

(Beo/TB/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya