Reshuffle Kali Ini Dinilai Lebih Bernuansa Politis Ketimbang Kinerja

Arga Sumantri
14/7/2016 08:12
Reshuffle Kali Ini Dinilai Lebih Bernuansa Politis Ketimbang Kinerja
(Pengamat politik, Yunarto Wijaya -- FOTO ANTARA/Rosa Panggabean)

ISU perombakan kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo jilid II kembali mencuat. Wacana reshuffle bahkan disebut hanya tinggal menunggu waktu.

Pengamat politik Yunarto Wijaya mengatakan ada pola yang berbeda soal isu reshuffle jilid II dengan yang sebelumnya. Dia melihat, perbedaannya ada pada sumber letupan isu reshuffle.

Reshuffle jilid pertama tahun lalu, kata Yunarto, meletup lantaran kinerja para menteri. Itu dimulai dengan kritik-kritik Presiden pada sejumlah menteri di kabinetnya.

"Kalau pada 2016 (reshuffle jilid II), letupan awalnya lebih secara politik. Pertama kali muncul isu reshuffle saat PAN memutuskan bergabung ke pemerintah," ujar Yunarko dalam acara Prime Time News, Metro TV, Rabu (13/7).

Yunarko melihat isu Presiden Jokowi bakal merombak kabinetnya kembali menguat setelah Partai Golkar memutuskan merapat ke pemerintah. Bergabungnya Golkar seolah memberi sinyal lebih kuat bakal ada reshuffle jilid II di pemerintahan Jokowi-JK.

"Sebab pola koalisi di Indonesia hampir tidak mungkin terjadi, partai pendukung pemerintah tanpa dapat posisi menteri," ujar Yunarko.

Tapi, Yunarko tetap berharap kalaupun harus ada perombakan kabinet, memang benar-benar dilakukan atas dasar kebutuhan. Bukan hanya sekedar jadi alat menata ulang koalisi pemerintahan. (MTVN/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya