WAKIL Presiden Jusuf Kalla meminta dua kelompok warga yang terlibat bentrokan di Kabupaten Tolikara, Papua, menahan diri tidak terpancung provokasi. Ia yakin bahwa kepolisian dan pemerintahan setempat dapat menyelesaikan ini dengan baik.
"Dua-duanya mestinya menahan diri. Yang Lebaran menahan diri, masyarakat yang punya acara lain juga tentu harus memahami. Saling memahamilah," kata Kalla ketika menggelar open house di Istana Wapres, Jumat, (17/7).
Kalla mengatakan bentrokan melibatkan dua kelompok masyarakat yang tengah menyelenggarakan acara di lokasi berdekatan. Kelompok pertama adalah masyarakat yang tengah menjalankan salat Idul Fitri, sementara kelompok lain tengah mengadakan acara di gereja. Selain masjid, sejumlah rumah dan ruko milik warga turut terbakar.
Pada kesempatan yang sama, Kapolral Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, insiden tersebut sudah ditangani oleh Polda Papua agar tak berkembang luas. Menurutnya, pangkal persoalan kekacauan tersebut dipicu ketidaksukaan dari warga sekitar yang mengeluh karena masjid memasang speaker terlampau keras.
Bentrokan terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua, saat salat Idul Fitri pada pukul 07.00 waktu setempat. Sebuah masji dilempari dan dibakar. Saat musala itu diserang, warga yang tengah beribada langsung berhamburan keluar. Enam rumah dan sebelas kios yang berada di sekitar musala itu juga diserang.
Sementara, Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menyesalkan aksi pembakaran rumah ibadah. Ia berharap insiden tersebut tak menyulut luas menjadi konfli antaragama. Untuk itu, ia mendesak polisi mengusut tuntas kejadian tersebut. "Jangan sampai meluas menjadi konflik agama. Hukum harus ditegakkan dan negara wajib menjamin warganya dalam menjalankan ibadah," tegasnya.
Sekretaris Konfrenai Wali Gereja Indonesia (KWI) Benny Susetyo berharap pemerintah segera bertindak cepat dengan membentuk tim investigasi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ia khawatir momentum tersebut dimanfaatkam oleh segelintir oknum yang hendak memperkeruh perdamaian di Papua.
"Jangan sampai masalah ini menjadi keruh dengan pendapat yang provokatif. Aneh kalau peristiwa ini terjadi di Papua," tandasnya.(Q-2)