Panglima TNI: Tak ada Negoisasi Dengan Penculik

Rudy Polycarpus
11/7/2016 18:43
Panglima TNI: Tak ada Negoisasi Dengan Penculik
(AP/Achmad Ibrahim)

PANGlIMA TNI Jenderal Gatot Nurmantyo murka dengan penyanderaan yang kembali terjadi terhadap WNI di perairan perbatasan antara Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Ini merupakan peristiwa keempat yang menimpa WNI lima bulan terakhir oleh pelaku yang sama yakni kelompok Abu Sayyaf.

Gatot menegaskan, atas kasus yang berulang tersebut, TNI tak bisa lagi memberikan toleransi.

"Yang sangat saya sesalkan adalah mereka memilih. Di dalam kapal nelayan itu ada tujuh, dicek semuanya. Yang punya paspor Indonesia ini yang diculik. Apapun akan saya lakukan untuk pembebasan. Apapun dengan cara apapun juga. Sampai masuk ke sana pun akan saya lakukan apabila ada izin. Karena ini sudah sangat keterlaluan," tegasnya seusai menghadiri silahturahmi Idul Fitri yang digelar Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Senin (11/7).

Sebanyak lima anggota kelompok bersenjata dari jaringan Abu Sayyaf menculik tiga nelayan Indonesia di atas kapal berbendera Malaysia. Ketiga nelayan itu, Lorence Koten (34), Teo Dorus Kopong (42), dan Emanuel (46), diculik pada Sabtu (9/7), di kawasan perairan Felda Sahabat, tak jauh dari Lahad Datu, Sabah, Malaysia. Empat nelayan lainnya dibebaskan penculik.

Penyanderaan sebelumnya dilakukan kelompok Abu Sayyaf di Laut Sulu pada Maret lalu dan menimpa 10 pelaut Indonesia. Kemudian pada 15 April lalu terhadap empat pelaut Indonesia. 14 WNI tersebut akhirnya dibebaskan melalui berbagai langkah diplomasi.

Satu kasus penyanderaan lainnya menimpa tujuh WNI anak buah kapal tunda Charles 001. Tujuh WNI yang diduga disandera oleh dua kelompok bersenjata berbeda di Filipina sejak 20 Juni lalu itu sampai sekarang belum bebas.

Gatot menduga motif uang menjadi alasan kelompok Abu Sayyaf kembali menyandera WNI. "Lama-lama mungkin datang ke sini, culik, lalu minta tebusan. Makanya jangan mau jadi bangsa sapi perah," ujar mantan KSAD itu.

Ia menegaskan, Indonesia tengah menyiapkan skenario operasi militer begitu mendapatkan lampu hijau dari pemerintah Filipina untuk masuk ke negara tersebut. Gatot memastikan, kali ini tak ada lagi negosiasi terhadap kelompok penculik. "Kita sudah menawarkan semuanya, tapi keputusannya di Filipina. Begitu dikasih izin masuk, apapun kita lakukan dan siap. Sekarang saya lakukan operasi intelijen, untuk mempersiapkan segala kemungkinan," pungkasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya