MESKIPUN berasal dari TNI Angkatan Darat, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tetap konsisten berkomitmen memperkuat TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara. Alutsista kedua matra itu bakal ditambah terutama dalam mendukung visi poros maritim Presiden Joko Widodo. "Dengan misi Presiden, yaitu poros maritim internasional, tidak ada ada alternatif lain harus mengembangkan dan menguatkan TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara.
Dengan demikian maka semua, seluruh wilayah Nusantara ini harus bisa terpantau, kemudian bisa diamankan, dan apabila terjadi hal-hal yang emergency, cepat kita bereaksi," ungkapnya, seusai dilantik Presiden sebagai Panglima TNI, di Istana Negara, Jakarta, kemarin. Pengangkatan bekas Kepala Staf Angkatan Darat itu sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal Moeldoko yang sudah memasuki masa pensiun tertuang dalam Keputusan Presiden No 49/TNI Tahun 2015 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Panglima TNI.
Acara yang digelar bersamaan dengan pelantikan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu dihadiri seluruh pimpinan lembaga tinggi negara. Gatot melanjutkan ia segera membahas dengan setiap matra angkatan terkait dengan soal besaran anggaran dan kebutuhan teknis alutsistanya. Ia memandang kebutuhan dua matra itu mencakup penambahan kapal perang, kapal selam, pesawat, serta radar canggih.
"Karena dengan poros maritim ini kan terbukanya wilayah kita," tambahnya. Gatot, yang pernah menjabat Panglima Komando Daerah Militer V Brawijaya, juga mencanangkan diplomasi militer yang lebih baik dengan negara-negara ASEAN. Langkah awalnya melalui latihan gabungan antarnegara. Diharapkan, militer negara ASEAN bisa bersinergi dan bekerja sama di kawasan.
"Kemudian mewujudkan situasi regional yang kondusif. Dengan demikian, ekonomi akan berjalan,' lanjut bekas Panglima Komando Strategis Angkatan Darat tersebut. Sementara itu, Kepala BIN Sutiyoso juga berjanji akan melakukan modernisasi peralatan untuk menghadapi tantangan di masa depan. "Kita harus memiliki alat yang super canggih. Seperti apa, tentu ini masalah teknis yang enggak bisa saya jelaskan," kata Sutiyoso.