Tinggalkan Politik Saling Menjatuhkan

Erandhi Hutomo Saputra
24/6/2016 22:10
Tinggalkan Politik Saling Menjatuhkan
(MI/Susanto)

DALAM politik saling bersaing dengan lawan politik merupakan hal yang wajar. Namun itu harus dilakukan elegan.

"Dalam politik sah-sah saja (saling menjatuhkan) tapi yang perlu digarisbawahi, mari berkompetisi secara harmoni, dan bertanding dengan program,” ujar Ketua Umum Garda Pemuda NasDem, Martin Manurung dalam acara buka puasa bersama Garda Pemuda NasDem dengan para parpol pendukung dan berbagai relawan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Jakarta, Jumat (24/6).

Acara tersebut dihadiri antara lain organisasi sayap partai pendukung Ahok yakni Pemuda Hanura, AMPG, dan AMPI. Selain itu juga hadir para relawan Ahok yang terdiri dari Teman Ahok, Muda Mudi Ahok, Batman, Ale-Ale Ahok, Jasmev, dam AGK.

Martin menambahkan, sudah saatnya budaya politik usang yang saling menjatuhkan, saling menjelekkan, mencari-cari kesalahan untuk ditinggalkan. Saat ini yang diperlukan yakni budaya politik yang saling membangun. Hal itu, kata Martin, dapat dicapai jika ketiga kekuatan politik yakni partai politik, relawan, dan aktor politik bersatu.

“Kita ingin memulai tradisi politik yang baru dimana parpol, relawan dan aktor politik bisa bersatu, sudah lewat masanya politik yang sikut-sikutan, cari keburukan orang lain, saling menjatuhkan. Sekarang mari tumbuhkan budaya politik saling membangun,” tegas Martin yang juga Ketua DPP NasDem tersebut.

Perlunya parpol karena parpol adalah agregasi kepentingan banyak orang yang mempunyai kesamaan ideologi. Tidak hanya itu, gerakan relawan juga diperlukan karena saat ini hanya relawan yang fokus mengawal advokasi isu-isu sosial dimana parpol kurang berkonsentrasi akan hal itu.

Ketiga, perlunya aktor politik yang kuat karena saat ini dibutuhkan pemimpin yang mempunyai visi, misi dan gagasan yang maju serta diaplikasikan dalam program kerjanya. “Bukan cuma petugas dari organisasinya,” cetusnya.

Senada, Ketum Pemuda Hanura, Wisnu Dewanto juga menyatakan saat ini budaya politik yang negatif sudah tidak lagi relevan. Pasalnya, budaya politik yang negatif justru bakal memperburuk citra seseorang yang menjelekkan itu sendiri.

“Saat ini Pemuda Hanura tidak mau urusan dengan orang yang menjelekkan Ahok tapi tugas kita memverifikasi KTP agar tidak diakal-akalin,” tukasnya.

Adapun Ketua Umum AMPI Dave Laksono menyatakan saat ini hal yang terpenting bukan jalur mana yang dipilih oleh Ahok yakni independen atau parpol. Tetapi bagaimana relawan dan parpol secara konkrit bersatu padu menyatukan kekuatan dan strategi guna pemenangan Ahok agar terpilih kembali menjadi Gubernur.

“Misal bisa membentuk dewan presidium sehingga arah dukungan jelas dan terarah,” ungkapnya.

Juru bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas menyatakan pengumpulan satu juta KTP juga berkat bantuan dari para parpol pendukung. Teman Ahok, kata dia, tetap mengawal dukungan KTP sampai Ahok memutuskan lewat jalur mana Ahok akan maju nantinya.

Ia pun telah berkoordinasi dengan KPUD DKI Jakarta dan KPUD menyatakan apreasinya kepada Teman Ahok yang membuat formulir dan database dukungan yang sangat rapi dan rinci. Pengawalan terhadap dukungan KTP tersebut, sebagai bukti jika dukungan KTP terhadap Ahok adalah asli dan tidak sesuai dengan tudingan para eks relawan yang menyatakan dukungan KTP adalah palsu.

“Kita membuktikan kekhawatiran deparpolisasi tidak betul, karena teman dari parpol dan relawan bersatu,” tukas Amalia yang juga meminta parpol ikut menjawab tudingan negatif terhadap Teman Ahok. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya