Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KISAH Tito Karnavian bak legenda di kepolisian. Tiga kali mengalami kenaikan pangkat luar biasa karena berbagai prestasi. Umpamanya, saat Tito memimpin grup reserse yang disebut Tim Kobra, dalam memburu aktor intelektual pembunuhan Hakim Agung Syafiudin, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, 2001.
Lalu, keberhasilan lulusan terbaik Akpol 1987 itu menangkap Nurdin M Top dan Dr Azahari, yang merupakan penanda prestasinya selama 11 tahun di dunia terorisme. Yang terakhir ialah penanganan teroris Thamrin yang memakan waktu kurang dari sehari saat ia menjabat Kapolda Metro Jaya.
Citra, menurut Guru Besar Manajemen Rhenald Kasali, ialah kesan yang muncul karena pemahaman. Pemahaman timbul karena informasi. Informasi tentang Tito dominan tentang prestasi.
Sampai-sampai, PDIP, yang dikenal dekat dengan sosok perwira tinggi di kepolisian bernama Budi Gunawan, bekas ajudan ketua umum-nya, Megawati Soekarnoputri, kali ini manut dengan usulan Presiden Jokowi.
"Di era SBY saja (usulan calon Kapolri) diterima, apalagi dari Jokowi yang merupakan kader PDIP," kilah Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah, dalam uji kepatutan dan kelayakan calon Kapolri di Komisi III DPR, Jakarta, kemarin (Kamis, 23/6).
Dukungan 100% kepada Tito sudah dinyatakan terlebih dahulu oleh anggota F-PKS Nasir Djamil, anggota F-PAN Muslim Ayub, anggota F-Nasdem Akbar Faisal. Desmon Junaidi Mahesa, anggota F-Gerindra pun mengutarakan keyakinannya.
Benny K Harman, Wakil Ketua Komisi III DPR, sempat menanyakan loyalitas Tito kepada Presiden. Alih-alih mengiyakan dengan tegas, Tito menyebut posisi Polri unik. Sebagai bagian eksekutif ia harus patuh pada Presiden, sebagai yudikatif berpegang teguh pada hukum. Bambang Soesatyo, Ketua Komisi III DPR, berseloroh, "Untung Pak Tito tidak terjebak."
"Ini penting. Hukum ada di atas Presiden. Kalau ada pilpres jangan jadi alat Presiden," timpal Benny. Tepuk tangan dari para anggota pun bergemuruh.
Hadirin kembali bertepuk tangan menyambut jawaban Tito saat mengklarifikasi rekaman pembicaraan antara bekas Ketua DPR Setya Novanto, Predir PT Freeport Maroef Sjamsoeddin, dan pengusaha M Riza Chalid.
Riza menyebut Tito bagian operasi pemenangan Jokowi di Pilpres 2014. Tito menjawab, kemenangan mutlak Jokowi-JK atas Prabowo-Hatta disebabkan kampanye dengan pendekatan personal di Papua. Misalnya, nama Iriana Widodo diambil dari kata Irian. Sedangkan, Prabowo tidak pernah berkampanye di sana.
Selain itu, rekapitulasi suara dari tingkat TPS hingga ke KPU, ikut diawasi wakil parpol secara transparan dan daring. Itu menyulitkan siapa pun untuk memanipulasi kemenangan.
"Kalau di Papua itu, siapa yang datang dia yang dapat," ujar pemilik gelar Phd dari Nanyang Technological University, Singapura, ini sambil tertawa ringan.
Para juru bicara di Komisi III mengakui jawaban-jawaban Tito lugas, tuntas, dan taktis. Meski begitu, citra dan jawaban verbal tidak selalu sesuai dengan kinerja. Masyarakat masih menunggu kerja nyata Anda, Pak Kapolri Tito! (P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved