TNI akan Terbuka soal Perawatan Alutsista

MI/ERANDHI HUTOMO SAPUTRA
05/7/2015 00:00
TNI akan Terbuka soal Perawatan Alutsista
(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
TUNTUTAN transparansi dalam perawatan alat utama termasuk soal suku cadang sistem persenjataan (alutsista) yang digaungkan banyak kalangan siap dipenuhi TNI. Tuntutan itu antara lain datang dari Komisi I DPR. Mereka menilai transparansi menjadi sebuah keniscayaan setelah tahun ini saja terjadi dua kali kecelakaan pesawat TNI-AU.

Pada April silam, pesawat tempur F-16 terbakar di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Selasa (30/6), pesawat angkut Hercules C-130 yang membawa 122 orang termasuk 12 kru jatuh di Medan, Sumatra Utara. Dua peristiwa tersebut dinilai tak lepas dari faktor usia pesawat yang sudah uzur. Permasalahan suku cadang diduga menjadi penyebab lain. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Fuad Basya mengatakan pihaknya menerima masukan untuk terbuka dengan perawatan alutsista.

Namun, tegas dia, transparansi hanya bisa dilakukan sepanjang tidak menyentuh sisi taktis dan strategis yang merupakan rahasia negara atau militer. "Sepanjang itu tuntutan sifatnya umum teknis pasti akan kita buka semua. Kalau menyangkut taktis atau strategis dan berdampak pada keamanan nasional kita tidak bisa terbuka," ujar Fuad dalam diskusi dengan tema Hercules dan ironi alutsista TNI di Jakarta, kemarin.

Fuad membantah bahwa dalam pemeliharaan pesawat-pesawat milik TNI saat ini ada kanibalisasi. Ia juga belum bisa memastikan soal penggunaan suku cadang palsu atau rekondisi. Ditambahkannya, pesawat Hercules yang jatuh di Medan sudah menjalani perawatan maksimal dan masih dalam kondisi laik terbang. Ia menduga penyebab kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang dan kru serta sejumlah warga di darat itu karena adanya  antena radio dalam radius 3-4 km dari Lanud Soewondo, Medan. Sejatinya, bandara harus steril dari bangunan tinggi minimal radius 5 km. "Pesawat siap terbang dan sampai di atas mesin sebelah kanan rusak. Pilot minta kembali dan masih rendah langsung belok kanan menyenggol antena milik Joy FM."

Tindak tegas
Pengamat militer Susaningtyas Nefo Handayani meminta investigasi dilakukan menyeluruh karena tidak tertutup kemungkin an kecelakaan tersebut akibat kanibalisasi alat utama pesawat dan penggunaan suku cadang ilegal. "Praktik seperti ini sudah ada sejak lama, ada permainan." Untuk itu, lanjut dia, dalam pengadaan alutsista hingga suku cadangnya ke depan harus ada uji kelayakan. Ditegaskan pula, jika terbukti ada orang dalam TNI yang tidak
memenuhi regulasi dan bermain-main dengan pihak ketiga dalam pengadaan suku cadang, yang bersangkutan wajib ditindak tegas karena sudah melanggar disiplin militer.

Terkait uzurnya alutsista, data CSIS menunjukkan 52% dari total 160 jenis alutsista dari seluruh matra TNI telah berumur lebih dari 30 tahun. Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya, hal itu sangat ironis. 'Komisi I pun akan mengusulkan peningkatan anggaran pertahanan secara bertahap menuju jumlah ideal, yakni Rp600 triliun. Saat ini anggaran pertahanan di kisaran Rp100 triliun.

‘"Sekarang kalau bicara minimum essential force angkanya Rp300 triliun, kebutuhan ideal Rp600 triliun," ucap Tantowi. Di lain sisi, Tim Disaster Victim Identifi cation (DVI) menyebutkan tinggal 9 kantong jenazah korban Hercules di Medan yang belum bisa diidentifi kasi. Kantong-kantong itu berisi 24 potongan tubuh korban. "Pagi tadi (kemarin) ada satu lagi yang teridentifi kasi dan langsung diberangkatkan ke Lanud Soewondo untuk proses penyerahan kepada keluarga," kata Ketua Tim DVI Mabes Polri, Kombes Anton Castillani. Selama lima hari proses identifi kasi, 115 jenazah yang sudah berhasil dalam pencocokan data post mortem dan ante mortemnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya