DPR Minta TNI Jujur soal Suku Cadang

MI/ADHI M.DARYONO
04/7/2015 00:00
DPR Minta TNI Jujur soal Suku Cadang
(Antara Foto)
DELAPAN jenazah korban kecelakaan pesawat Hercules C-130 di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatra Utara, Selasa (30/6), sejak pagi sudah dimasukkan ke pesawat Hercules C-130. Semuanya sudah dinyatakan oke terbang. Namun, saat pesawat angkut militer TNI-AU akan take off di Lanud Soewondo, Medan, Sumatra Utara, kemarin, tiba-tiba bagian dalam pesawat memercikkan api. Keluarga yang mengiringi jenazah sungguh kaget. Akhirnya pesawat urung terbang.

Sedianya pesawat akan membawa jenazah dengan tujuan Pekanbaru, Riau, Ranai (Natuna), dan Kota Malang, Jawa Timur. "Kami sudah duduk di dalam mau berangkat. Mesin sudah hidup, pintu samping sudah ditutup, sedangkan pintu belakang mau ditutup, suara mesin sudah makin besar, tiba-tiba terdengar suara, 'krik, krik'. Kami lihat ada percikan kecil api di tengah dekat tangga masuk dan ruang pilot," kata Vanesa Romina Beru Sembiring, 45, yang mendampingi jenazah kakak sepupunya, Eni Beru Sembiring, menuju Kota Malang, Jawa Timur, di Lanud Soewondo, kemarin.

Kecelakaan pesawat andalan matra udara itu nyaris terulang. Panglima Komando Operasi I TNI-AU Marsda A Dwi Putranto mengakui peristiwa itu. "Penyebabnya ialah korsleting. Komponen yang mengubah AC menjadi DC mengalami korsleting," tutur Dwi Putranto. Karena Hercules gagal terbang, delapan jenazah itu akhirnya diterbangkan menggunakan pesawat CN 295.

Pemberangkatan dilakukan setelah tiga jam lebih tertunda. Pesawat CN 295 dengan nomor lambung A-2095 yang membawa 8 jenazah itu terbang sekitar pukul 10.50 WIB. Komisi I DPR meminta TNI transparan dalam perawatan alat utama sistem persenjataan (alutsista), termasuk soal spare part atau suku cadang pesawat milik TNI.

Hal ini mengingat, dalam tahun ini sudah dua kali terjadi kecelakaan pesawat milik TNI-AU yang ditenga rai dengan uzurnya usia alutsista dan suku cadang yang tidak sesuai dengan jenisnya. "Apa yang terjadi di Medan semakin memperkuat kami untuk meminta TNI terbuka dalam perawatan," ujar Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar Tantowi Yahya dalam sebuah diskusi di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta, kemarin.

Tantowi mengusulkan sebuah lembaga independen seperti penerbangan sipil yang menetapkan standar khusus kelaikan pesawat untuk bisa beroperasi. "Jadi tidak sekadar aman menurut versi mereka (TNI)," cetusnya. Sebelumnya, berdasarkan investigasi Media Indonesia, perawatan Hercules diduga menggunakan  suku cadang palsu.

Ada rekanan TNI-AU yang menyuplai suku cadang pesawat rekondisi. Hal ini terjadi karena ada dugaan kongkalikong dengan oknumTNI-AU (Media Indonesia, 3/7). Mayoritas uzur Berdasarkan database CSIS per Desember 2014, TNI mengoperasikan 160 jenis alutsista dengan komposisi: 64 persenjataan matra darat, 56 sistem senjata matra laut, dan 40 tipe pesawat matra udara. "Apabila dilihat dari masa operasionalnya, 52% total alutsista TNI dipergunakan lebih dari 30 tahun.

Kondisi ini tentu menjadi perhatian publik ketika kecelakaan fatal pesawat militer kerap terjadi di Indonesia," ujar peneliti pertahanan dan militer CSIS Iis Gindarsah. Panglima TNI terpilih Jenderal Gatot Nurmantyo memastikan akan melakukan pembaruan alutsista. Namun, Gatot mengatakan pembaruan tersebut tidak bisa dilakukan sekaligus. Pasalnya, meski meningkat, anggaran TNI sebesar Rp100 triliun untuk tahun depan, bukan hanya untuk memelihara dan memodernisasi alutsista, tapi juga untuk keperluan TNI lainnya, seperti gaji. (Pol/PS/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya