Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PANGLIMA TNI berjanji akan menjatuhkan sanksi kepada oknum yang menganibalisasi dan mengomersialisasi Hercules C-130. TNI membutuhkan waktu dua pekan untuk mengusut penyebab kecelakaan pesawat Hercules C-130 di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatra Utara, Selasa (30/6), termasuk soal kanibalisme dan suku cadang (spare part) palsu.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan fokus penyelidikan mencakup sisi teknis dan nonteknis, seperti prosedur, mekanisme, dan operasionalnya.
Dia menegaskan penyelidikan dilakukan secara teliti untuk menghindari kesalahan sekecil apa pun. "Termasuk kalau ada dugaan kanibalisme suku cadang dan komersialisasi. Itu kalau ada, tentu ada sanksi," ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.
Pesawat angkut militer milik TNI-AU dengan nomor ekor A-1310 itu jatuh di Jalan Jamin Ginting, Medan, Selasa (30/6). Jumlah korban tewas sebanyak 122 orang, dari prajurit TNI dan juga sipil.
Pesawat buatan 1964 yang dipiloti Kapten (Pnb) Sandy Permana itu mengalami musibah saat hendak kembali ke Lanud Soewondo, Medan, pukul 11.48 WIB, hanya 2 menit setelah lepas landas menuju Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Sebelumnya, berdasarkan sumber di TNI-AU, suku cadang palsu selama ini beredar, termasuk untuk pesawat Hercules. Menurutnya, ada perusahaan rekanan TNI-AU yang menyuplai suku cadang pesawat rekondisi. Rekanan tersebut bekerja sama dengan oknum di matra udara itu.
"Suku cadang direkondisi, diperbarui dengan menyertakan dokumen yang dipalsukan," ujarnya.
Dokumen yang dipalsukan, lanjut sumber itu, antara lain CoC (certificate of confirm), ARC (authorized release confirm), serta CoO (certificate of origin). Dokumen tersebut dikeluarkan pabrik suku cadang yang sudah mendapat izin dari otoritas terkait (Media Indonesia, 2/7).
Pengalaman menyeramkan naik Hercules C-130 dengan nomor ekor A-1310 itu dirasakan seorang jurnalis, Syawal, 43, saat mengikuti misi kemanusiaan ke India pada 2005.
Pesawat yang membawa 16 penumpang termasuk kru itu akhirnya mendarat di Batam untuk diperbaiki. Padahal, menurut Syawal, pesawat tersebut seharusnya bisa transit di Bangkok sebelum melanjutkan penerbangan ke India.
"Dari Bangkok lanjut ke India, baru 1,5 jam terbang kru melihat ada tetesan oli di dalam kabin dan mereka coba perbaiki, dibongkar dan diperbaiki, 3 orang teknisi berusaha menutup tetesan oli tersebut," katanya.
Tabrak antena
Terkait dugaan komersialisasi, Panglima TNI mengatakan, selain tugas kedinasan, salah satu fungsi pesawat Hercules ialah mengangkut warga sipil. Namun, warga sipil yang menumpang harus dipastikan memiliki hubungan kekerabatan dengan anggota TNI.
Moeldoko mengakui usia alat angkut udara, termasuk pesawat Hercules, yang dimiliki Indonesia rata-rata sudah uzur. Dia pun mengungkapkan anggaran yang dibutuhkan untuk perawatan alutsista cukup tinggi.
"Rencana anggaran total TNI tahun 2016 mencapai Rp101 triliun. Itu sudah dibagi ke dalam lima instansi, termasuk pemeliharaan alutsista," pungkas pati yang akan pensiun pada 1 Agustus 2015 itu.
TNI-AU mencium dugaan sementara penyebab musibah tersebut ialah gangguan lingkungan berupa tiga antena pemancar radio setinggi 25 meter tak jauh dari Lanud Soewondo, Medan.
"Diperkirakan ada masalah di engine (mesin) nomor empat. Secara teori itu bisa di-recover (diatasi), tapi karena masih rendah, di sana ada antena, jadi itu yang bermasalah," kata Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsma Dwi Badarmanto di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin.
Terpisah, Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan investigasi penyebab jatuhnya Hercules C-130 harus mengungkap kondisi kelaikan terbang pesawat tersebut. "Termasuk soal suku cadangnya, apakah sudah benar atau tidak," ujarnya. (Riz/Nov/X-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved