Pemerintah Diminta Pertimbangkan soal Helikopter Super Puma

Antara
14/6/2016 21:48
Pemerintah Diminta Pertimbangkan soal Helikopter Super Puma
(ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

PEMERINTAH diminta mempertimbangkan kembali jika hendak membeli Helikopter Super Puma buatan Airbus karena pesawat tersebut dinilai tidak banyak memiliki keunggulan sebagai pesawat kepala negara.

Pengamat Kebijakan Anggaran Center for Budget Analysis (CBA), Ucok Sky Khadafi, dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa (14/6), memberikan contoh ketidaklaikan helikopter jenis tersebut ialah Angkatan Udara (AU) Malaysia telah direpotkan oleh imbas notifikasi yang dikeluarkan Airbus pada 2013.

"AU Malaysia diharuskan melakukan pemeriksaan gearbox setiap 2,5 jam terbang dan Caracal hanya bisa diterbangkan dengan torsi 70% dari daya maksimumnya. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut menyebabkan siklus persiapan terbang pesawat semakin panjang sebelum diterbangkan sehingga mengganggu kesiapan pesawat itu sendiri untuk terbang," katanya.

Ia juga menyebut contoh lainnya yakni Polandia dilaporkan berencana membatalkan pesanan 50 unit EC 725 sebab transfer teknologi dan porsi komponen yang dikerjakan oleh industri lokal sangat minim. "Jelas sekali, Super Puma/Super Caugar adalah pesawat yang kualitasnya tidak terlalu canggih, padahal dibuat oleh industri pesawat terbang yang sudah berpengalaman," katanya.

Tak hanya itu, kata Ucok, akhir-akhir ini beberapa kali pesawat jenis itu mengalami kecelakaan. "Apakah jumlah itu kurang meyakinkan sehingga masih menganggap Super Puma hebat dan pantas untuk mengangkut Presiden RI yang berkedudukan sebagai kepala negara," kata Ucok.

Ia menyebut, apa yang terjadi pada helikopter H225 Super Puma pada April 2016 yang dioperasikan CHC Helicopter Service mengalami insiden yang sangat fatal, yaitu lepasnya bilah motor utama. Akibatnya, helikopter jatuh dan menewaskan tiga belas penumpangnya, termasuk pilot dan co-pilot. Insiden tersebut terjadi di Laut Utara saat helikopter tersebut mengangkut pekerja minyak lepas pantai milik perusahaan Statoil.

Adapun fakta lain tentang insiden yang melibatkan Super Puma bisa dilacak sampai empat tahun lalu, yaitu pada 2012. "Pada 2012, Helikopter Super Puma mengalami dua insiden, pertama, pada 10 Mei, Helikopter ECSS5LP G-REDW mengalami kerusakan pada sistem pelumas gearbox utama. Kedua, pada 22 Oktober, H-225 G-GHCN milik perusahaan CHC Scotia mendarat darurat sebab pompa sistem pelumasnya tidak bekerja," katanya.

Oleh karena itu, kata Ucok, dengan melihat catatan itu, usulan menjadikan Super Puma sebagai pesawat kepresidenan harus diabaikan. (Ant/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya