Presiden Tahu Menteri yang Jelekkan Dirinya

Nyu/Nov/Adi/X-9
01/7/2015 00:00
Presiden Tahu Menteri yang Jelekkan Dirinya
Pratikno, Menteri Sekretaris Negara(MI/PANCA SYURKANI)

PRESIDEN Joko Widodo sudah mengetahui sosok menteri yang disebut menjelek-jelekkan dirinya. Namun, ia tak menggubris masalah itu dan meminta anggota Kabinet Kerja bekerja cepat menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Sekretaris Negara Pratikno di Istana Presiden, Jakarta, kemarin. "Sudah, sudah (tahu menteri yang menjelekkan dirinya). Presiden sudah komunikasi dengan saya.

"Dua hari lalu tersebar transkrip ucapan salah satu menteri yang tak takut di-reshuffle Presiden asal dengan alasan yang jelas. Ia juga mengatakan Presiden Jokowi tidak tahu apa-apa. Menteri BUMN Rini Soemarno disebut-sebut sebagai pihak yang mengucapkan itu, tetapi ia membantah keras.

Presiden, imbuh Pratikno, seolah juga tak menggubris persoalan yang belakangan terus berkembang itu. Menurutnya, Jokowi tidak mudah terpengaruh. "Sama sekali (tidak risau). Beliau itu aja pesannya, untuk kerja ngebut," tukasnya.

Perihal adanya menteri yang menjelekkan Presiden pertama kali dibeberkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Tjahjo kemarin kembali menegaskan kesiapannya untuk melawan siapa pun menteri yang menghina Presiden di depan publik. Ia mengaku telah melaporkan menteri yang dimaksud kepada Presiden dan Wapres Jusuf Kalla.

Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah menyatakan juga sudah mendengarkan rekaman ucapan sang menteri yang merendahkan Presiden, sepekan silam. Yang bersangkutan, jelas dia, berbicara di depan sebuah forum.

"Statement-nya sangat tendensius. Dia memosisikan seolah-olah dialah konseptor dan sutradara yang mengendalikan Presiden. Itu artinya, pemerintahan Jokowi berada dalam bahaya karena di dalamnya ada seseorang yang merasa seolah-olah berada di atas Presiden," kata Basarah.

Sekjen Partai NasDem Patrice Rio Capella menilai loyalitas ialah salah satu ukuran Presiden untuk reshuffle. Perombakan kabinet, terutama di bidang ekononi, dinilai mendesak dilakukan untuk membangkitkan kepercayaan pasar. Presiden pun telah meminta masukan dari pakar-pakar ekonomi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya