Reshuffle Fokus ke Menteri Ekonomi

MI/ANSHAR DWI WIBOWO
30/6/2015 00:00
Reshuffle Fokus ke Menteri Ekonomi
(MI/RAMDANI)
PRESIDEN Joko Widodo tak bisa menyembunyikan kerisauannya terkait dengan melambatnya perekonomian RI. Bahkan, nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS terus jeblok dan sempat menembus 13.400. Hal itu terungkap dalam dialog Presiden dengan 11 ekonom dan mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

Ekonom asal UGM Tony Pra setiantono mengatakan Presiden menyadari kekurangan tim ekonomi di kabinetnya. "Kita perlu menteri-menteri yang aksentuatif. Presiden, sa ya surprise juga Presiden menyadari (hal itu)," kata Tony seusai bertemu Presiden. Menurutnya, pelemahan rupiah disebabkan rendahnya kepercayaan pasar pada kabinet.

"Kalau dibandingkan dengan 98, ekonomi kita lebih baik, 98 hampir semua bank kolaps. Jadi sebetulnya dari sisi fundamental kita bisa ekspektasi, tapi yang lemah confidence atau trust kepada tim ekonomi," terangnya. Presiden, lanjutnya, membutuhkan playmaker dalam tim ekonomi kabinetnya. "Kita tidak punya ekonom bintang yang ditemukan pasar. Beliau katakan, kalau hari ini (kemarin) ketemu orangnya, akan saya lantik," cetusnya.

Tony menyebut mantan Men teri Keuangan Sri Mulyani yang saat ini menjadi petinggi Bank Dunia adalah orang yang tepat untuk duduk bersama Presiden. "Enggak gampang menemukan orang seperti itu. Saya juga nyeletuk seperti itu (Sri Mulyani). Beliau memenuhi syarat," tukasnya. Selain Tony, hadir ekonom Arif Budimanta, Iman Sugema, Hendri Saparini, Djisman Simanjuntak, Anton Gunawan, Destry Damayanti, A Prasetyantoko, Poltak Hotradero, Lin Che Wei dan Raden Pardede.

Dalam per temuan itu juga hadir Wa kil Presiden Jusuf Kalla. Ekonom dari Universitas AtmaJaya A Prasetyantoko menga takan Presiden memahami langkah-langkah yang harus diambil untuk mengantisipasi kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan. Kepala Divisi Riset Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero menyoroti ancaman pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I yang hanya 4,7% perlu diwaspadai. Sebelum kedatangan para ekonom, Presiden menerima mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif. Jokowi meminta saran kepada Buya Syafii soal reshuffle kabinet. Buya berpendapat, reshuffle kabinet bukan lagi keinginan kelompok atau perseorangan, melainkan sebuah keharusan karena banyak menteri Jokowi  yang kinerjanya kurang gereget dan tak mencapai target.

"Kita bicara macam-macam. Reshuffle, carilah pembantu yang punya pandangan jauh ke depan (visioner)," katanya seraya mencontohkan sosok Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Transkrip beredar Isu perombakan (reshuffl e) kabinet kerja makin memanas setelah Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menuding ada menteri tidak loyal kepada Pre siden Jokowi, seusai buka bersama di kediaman Menko Pembangunan Manusia dan Ke budayaan Puan Maharani, di Jakarta, Minggu (28/6), Tjahjo kembali angkat bicara.

"Kemendagri harus siap dan berani mengambil sikap dalam menentukan siapa kawan maupun lawan. Gubernur, bupati, dan wali kota adalah perangkat tangan kanan presiden. Sementara men teri seba gai tangan ki ri presiden," ujar Tjahjo di Jakarta, kemarin. Tjahjo mengaku Presiden sudah mengetahui menteri yang dianggap tak loyal itu, tapi dia enggan menyebut namanya.

Terpisah, politikus PDIP Masinton Pasaribu membeberkan bahwa orang yang dimaksud ialah salah satu menteri perempuan di bawah koordinasi menko perekonomian. "Dia (menteri) profesional, tapi ker janya tidak profesional," tuturnya. Anggota Komisi III DPR Akbar Faizal pun mengungkapkan transkrip omongan menteri yang menghina Presiden Jokowi.

"Saya terima ini melalui grup di handphone saya pada waktu acara 3 Juni 2015," kata Akbar di kompleks parlemen, Jakarta, kemarin. Meski mengaku belum mendengar rekamannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bila benar hal itu harus ditindak. “Siapa saja, pembantu atau menteri, tentu saja tidak pantas mengecilkan atasannya,” kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, kemarin.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M Soemarno membantah bahwa dirinya menjelekkan Jokowi."“Sepatutnya dalam bulan suci Ramadan ini kita semua tidak semestinya memfitnah orang," ujar Rini, seraya mengatakan baginya mutlak untuk mematuhi dan menghormati atasannya, Presiden Jokowi. (Pol/Tes/Uta/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya