ISU kocok ulang kabinet (reshuffle) jangan dibiarkan berlarut-larut bak bola liar.
Presiden Joko Widodo harus bersikap tegas.
"Jangan sampai sudah tenggelam, baru ambil sikap," kata pengamat politik dari Indo Barometer, M Qodari, dalam diskusi di Jakarta, kemarin.
Ia mengatakan saat ini ialah waktu yang tepat bagi Jokowi merombak kabinet.
Untuk itu kecepatan dan ketegasan mengambil keputusan sangat dibutuhkan mengingat kondisi ekonomi kian memburuk.
"Yang dibutuhkan ialah menteri yang loyal dan punya kompetensi," tegasnya.
Di tempat terpisah, Ketua Populi Center Nico Harjanto mengatakan kinerja kabinet Jokowi-JK memang butuh penyegaran akibat penampilan buruk menteri, terutama bidang ekonomi.
Ia mendorong adanya penambahan kalangan profesional yang lebih mumpuni ketimbang anggota tim ekonomi saat ini.
Menurutnya, arah angin reshuffle condong menerpa tim ekonomi Kabinet Kerja mengingat sejumlah hasil survei mengindikasikan rendanya tingkat kepercayaan terhadap tim ekonomi.
Itu disebabkan absennya kepemimpinan yang kuat di tim ekonomi serta tidak ada visi pembangunan yang sama.
"Kadang kebijakan bagus, tapi implementasinya tabrakan satu kementerian dengan kementerian yang lain," kritik Nico.
Namun, ia menegaskan rencana perombakan kabinet tidak bisa dijadikan pembenaran bagi partai politik untuk meminta jatah kursi lebih banyak dan menyingkirkan kaum profesional.
Kinerja menteri politikus pun masih banyak yang antara ada dan tiada.
Salah satu menteri dari partai yang disorot kinerjanya ialah Puan Maharani.
Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu, jelas Nico, prestasinya selama delapan bulan menjabat tidak jelas.
Begitu pula dengan program dan pola penyampaiannya kepada masyarakat.
"Hanya karena (mengakomodasi) darah biru, pemerintahan terbebani," cetus dia.
Mantan Sekretaris BUMN Said Didu mengatakan Jokowi harus menetapkan terlebih dahulu kriteria untuk setiap calon menteri.
"Setelah Jokowi memiliki kriteria, baru dilempar ke partai politik kriteria tersebut untuk dicari apakah ada yang sesuai atau tidak," ujarnya.