Pansel Komisi Antirasywah tidak Pandang Asal Institusi
Cah/P-4
25/6/2015 00:00
(ANTARA/ANDIKA WAHYU)
PANITIA Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tegas menyatakan bebas dari intervensi dan tidak melihat institusi asal para pendaftar, sehingga latar belakang pendaftar baik dari kepolisian, kejaksaan, dan TNI tidak memengaruhi proses seleksi.
Panitia lebih menekankan pada prosedur yang berlaku.
"Semua pendaftar akan diperlakukan sama. Semuanya harus melalui proses seleksi yang sama dan harus memenuhi semua syarat dan kriteria," tegas juru bicara Pansel KPK Betti Alisjahbana, kemarin.
Ia menjelaskan, Pansel KPK tidak akan melihat latar belakang dan dari institusi asal.
Polri merekomendasikan lima capim komisi antirasywah itu, begitu juga dengan Kejaksaan Agung.
Bahkan ada kandidat yang direkomendasikan TNI
"Pansel kan sudah dari awal menegaskan akan menghindari upaya tidak fair, baik berupa intervensi dan lainnya. Juga jika ada, nantinya akan langsung dilaporkan ke Pak Presiden," ungkapnya.
Betti mengatakan pansel masih bekerja tanpa ada gangguan apa pun dan semua kebijakan hanya atas kesepakatan Sembilan anggota pansel.
Itu termasuk penambahan waktu pendaftaran yang awalnya sampai tanggal 24 dan diperpanjang sampai 3 Juli.
Sementara itu, anggota Pansel Capim KPK, Yenti Ganarsih mengatakan, sejak awal ada sekitar 30 hingga 40 orang yang jadi target jemput bola Pansel.
Pihaknya pun melakukan upaya untuk mendatangi ataupun menghubungi orang-orang tersebut dan mengajak agar mereka mau mendaftarkan diri sebagai calon pimpinan KPK.
"Sampai saat ini, kelihatannya belum ada 20% yang sudah mendaftar. Itu pengaruhnya ada kecenderungannya ke arah itu (kriminalisasi pimpinan KPK)," kata Yenti.
Ia menjelaskan, terkait hal ini pihaknya sudah menjelaskan kepada berbagai pihak, kriminalisasi tidak akan terjadi jika koordinasi supervisi antara lembaga penegak hukum yakni KPK, kejaksaan, dan Polri, dapat berjalan dengan baik dan maksimal.
"Kalau mereka tidak mau mendaftarkan diri, ya berarti ada pertimbangan sendiri, dan kita tidak bisa terus-terus mengajak mereka," pungkasnya.