Mencari Pengawas Wakil Tuhan yang Ideal

Indriyani Astuti/P-2
23/6/2015 00:00
Mencari Pengawas Wakil Tuhan yang Ideal
(ANTARA/ANDIKA WAHYU)
SELEKSI calon pimpinan Komisi Yudisial sudah sampai pada tahapan profile asessment, kemarin hingga besok (24/6). Ada sekitar 35 orang yang terdaftar untuk berebut menjadi calon pimpinan lembaga pengawas 'wakil Tuhan' itu. Latar belakang mereka beragam, mulai dari petahana (komisioner yang tengah menjabat), mantan hakim konstitusi, advokat, hingga dosen antusias mengikuti seleksi.

Tiga komisioner KY yang kini masih aktif menjabat, Suparman Marzuki (Ketua KY), Imam Anshari Saleh (Wakil Ketua KY), dan Ketua Bidang Rekrutmen dan Pengawasan Hakim Taufiqurrahman Syahuri pun masih berminat ikut kembali dalam proses seleksi ini. Sebelumnya, ada pula pelamar job seeker seperti fresh graduate, penjaga warnet bertitel sarjana hukum. Namun akhirnya dinyatakan tidak lolos kualifikasi administrasi.

Adapun mantan Hakim MK Harjono pun mengaku tertarik ikut mendaftarkan diri. Alasannya, dirinya concern dengan dunia peradilan saat ini yang masih membutuhkan pembenahan. Harjono sempat menuturkan pengalamannya di masa lalu, perihal perilaku hakim yang bermain perkara. "Sewaktu di airport ada seorang ibu, percakapannya terdengar bahwa dia tengah menunggu putusan pengadilan. Kemudian pengacaranya bilang bahwa mereka akan menang karena hakimnya akan datang. Kemudian datanglah laki-laki berbaju safari di dadanya tersemat pin pengadilan. Saya anggap dia adalah hakim," kenang Harjono.

Hubungan KY dan MA saat ini yang keruh juga turut menjadi perhatiannya. Padahal keberadaan KY pascaamendemen UUD 1945 agar dunia peradilan lebih baik.

Keberhasilan KY, menurut Harjono, tidak bisa diukur dari banyaknya hakim yang dijatuhi sanksi. Namun, indikator keberhasilan itu tidak ada lagi hakim yang harus disidang di Majelis Kehormatan Hakim.

Menurut anggota Pansel Calon Komisioner KY Asep Rahmat Fajar dalam profile assesment, 34 peserta hadir di pusat pendidikan dan pelatihan kementerian Sekneg di Cilandak, Jakarta. Satu orang, Chandra Adam, tidak hadir dan dianggap mengundurkan diri. "Tesnya ada sesi pencil and paper test, focus group discussion, dan interview. Dalam tahap ini pansel dibantu konsultan psikologi profesional," kata dia.

Nilai dari semua sesi itu nantinya dilengkapi dengan data laporan masyarakat dan lembaga-lembaga negara terkait seperti KPK, PPATK, BIN, Kejaksaan Agung, serta Polri untuk menelusuri rekam jejak para kandidat. Sebuah proses yang tidak mudah yang diharapkan menghasilkan pimpinan KY yang mumpuni dan berwibawa, baik di mata MA maupun masyarakat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya