Penanganan Rohingya Jadi Perhatian Bersama

Mut/AFP/Ant/Pra/I-3
21/6/2015 00:00
Penanganan Rohingya Jadi Perhatian Bersama
Pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar mengangkut barang milik mereka saat meninggalkan lokasi penampungan TPI Kuala Cangkoi, Lapang Aceh Utara.(ANTARA/Rahmad)

KOORDINATOR Advokasi dan Kampanye Wahid Institute, Alamsyah M Djafar, mengatakan kasus kemanusiaan yang menimpa etnik Rohingya perlu menjadi perhatian bersama. Bukan hanya perhatian umat Islam, melainkan juga seluruh umat manusia di dunia tanpa mengenal perbedaan agama.

"Masalah ini bukan semata-mata persoalan agama, melainkan soal kemanusaiaan. Jadi, seluruh organisasi keagamaan, khususnya yang ada di Indonesia, bisa ikut terlibat membantu mereka," ujar Alamsyah dalam Dialog Lintas Iman untuk Rohingya di Jakarta, kemarin.

Saat ini, lebih dari 1.000 pengungsi Rohingya telah berlabuh dengan perahu-perahu mereka di Langsa, Aceh. Pemerintah setempat telah memfasilitasi dengan maksimal kedatangan para pengungsi tersebut. Akan tetapi, menurut Alamsyah, penanganan pengungsi Rohingya masih memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pasalnya, banyak pengungsi wanita dan anak-anak yang membutuhkan bantuan tidak hanya materil, tapi juga dukungan moril.

"Banyak anak tanpa pendamping, wanita tanpa suami. Mereka perlu uluran tangan kita," tandas Alamsyah.

Ketua Suaka, Febi Onesta, menegaskan bahwa pemerintah Indonesia masih belum menjamin hak pencari suaka dan pengungsi misalnya etnik Rohingya seperti saat ini. Padahal masalah pengungsian merupakan tanggung jawab semua negara.

"Pemerintah harus membuat kerangka hukum terkait pengungsi dan para pencari suaka. Simpelnya, jangan sampai keberadaan mereka di sini semakin mempersulit kondisinya," pungkas dia.

Sementara itu, Jepang memberikan bantuan sebesar US$3,5 juta atau setara dengan Rp46 miliar lebih untuk mengatasi permasalahan pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari negara asal mereka, Myanmar.

Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida mengatakan negaranya selalu berkomitmen untuk membantu sebagai upaya rekonsiliasi nasional di berbagai bidang di negara-negara Asia, termasuk antara pemerintah Myanmar dan kelompok minoritas muslim etnik Rohingya.

"Berkenaan dengan imigran ilegal, Jepang telah memutuskan untuk memberikan bantuan US$3,5 juta melalui Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR)," ujar Kishida dalam pidatonya.

Dia menyebutkan dana bantuan tersebut akan digunakan untuk menyediakan makanan dan tempat tinggal bagi para pengungsi Rohingya serta mendanai analisis data pergerakan maritim mereka.

Di sisi lain, salah satu organisasi keagamaan, Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), juga telah menyalurkan bantuan senilai Rp1,1 miliar untuk para pengungsi Rohingya yang saat ini ditampung di Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya