Rejuvenasi Makna Bhineka Tunggal Ika

Rudy Polycarpus
20/5/2016 22:36
Rejuvenasi Makna Bhineka Tunggal Ika
(ANTARA/Prasetia Fauzani)

BANGSA Indonesia cenderung gagal memaknai Bhineka Tunggal Ika sebagai roh dari Pancasila. Pasalnya, dalam praktik kehidupan berbangsa, semboyan tersebut bak kehilangan maknanya. Hal itu tercermin dari maraknya konflik sosial yang dilakukan non state actors. Menurut Putu, perlu dibangun kembali suatu kekuatan yang menjadi jati diri bangsa.

Demikian disampaikan orasi ilmiah Tenaga Profesional Bidang Kewaspaan Nasional Mayjen TNI (Purn) I Putu Sastra Wingarta dalam rangka HUT 51 Lemhannas di Gedung Lemhannas, Jakarta, Jumat (20/5). "Solusinya adalah rejuvenasi (peremajaan) kembali Bhineka Tunggal Ika seperti yang dikehendaki awal oleh pendiri bangsa," ujarnya.

Keberagaman namun satu seperti yang diusung semboyan negara tersebut, kata Putu, tidak sekedar dimaknai sebagai pluralisme semata. Pasalnya, hal itu justru memicu silang pendapat yang tidak kunjung usai.

Silang pendapat harus tetap dalam bingkai Pancasila yang menekankan nilai-nilai gotong-royong, toleransi serta keadilan. Kegagalan mempraktikkan Bhineka Tunggal Ika jelas mantan Dan Paspampres era Gus Dur itu, berpotensi membahayakan disiintegrasi bangsa dan tergerusnya nasionalisme.

"Hal penting dalam rejuvenasi adalah meninjau ulang perundang-undangan yang berpotensi disintegrasi," tandasnya.

Data Lemhannas menunjukkan, Indeks Ketahanan Nasional pada 2015 di bidang ideologi, politik dan sosial budaya, predikat ketangguhannya cuma "kurang tangguh". Putu mengingatkan, pentingnya memahami filosifi Bhineka Tunggal Ika.

Pasalnya, globalisasi melahirkan pemahaman baru menyangkut keamanan. Pelaku kekerasan adalah non state actors yang dipicu oleh kesenjangan ekonomi, ketidakadilan, separasi politik, tuntutan solidaritas agama yang dimanipulasi oleh kelompok ekstrimis dan fundamentalis. Karena itu, ia mendorong RUU Keamanan Nasional ( Kamnas) yang menjadi pondasi jangka panjang kehidupan berbangsa yang dinamis.

"Tidak sekedar keamanan negara, tapi juga keamanan insani. RUU Kamnas mestinya membuka pintu pembentukkan Dewan Keamanan Nasional," tandasnya.

Sementara itu, Gubernur Lemhannas Agus Widjojo saat memberi sambutanya dalam upacara parade berharap kehadiran Lemhanas bisa beradaptasi dengan dinamika masyarakat. Dia mengingtkan kepada warga Lemhanas untuk mencermati isu politik yang akhir-akhir ini sedang terjadi.

Agus menengaskan, Lemhanas harus mampu mengendalikan diri agar tetap konsisten tidak terjebak dalam dinamika politik. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya