Sosok ARB di Belakang Novanto, Masa Depan Golkar Suram

Arnoldus Dhae
18/5/2016 19:24
Sosok ARB di Belakang Novanto, Masa Depan Golkar Suram
(ANTARA)

KONFLIK internal dan dualisme kepemimpinan DPP Partai Golkar telah berakhir seiring dengan suksesnya penyelenggaraan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) partai berlambang beringin itu di Bali Nusa Dua Convention Center Nusa Dua, Badung, Bali, 14-17 Mei lalu.

Setya Novanto telah terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar hingga 2019 mendatang. Kendati demikian, terpilihnya Novanto belum mampu menghapus skeptisisme publik terhadap Golkar.

Usai Novanto terpilih, suara pesimisme publik bermunculan. Di tangan Novanto, Partai Golkar dinilai akan sulit meraih kejayaan pada masa yang akan datang. Pengamat Sosial Politik dari Universitas Ngurah Rai Denpasar, Dr Luh Riniti Rahayu, mengatakan, salah satu faktonya ialah jabatan strategis Partai Golkar masih dipegang kader-kader lama yang mendapat resistensi kuat dari publik.

"Masa depan Golkar, bila dilihat dari komposisi jabatan-jabatan yang strategis yang diisi orang lama dengan track record seperti itu, maka Golkar terlihat suram," kata Riniti di Denpasar, Rabu (18/5).

Direktur LSM Bali Sruti itu menambahkan, sesungguhnya yang memenangi pertarungan di arena Munaslub Golkar ialah kelompok lama, yakni kubu Aburizal Bakrie (ARB). "Sesungguhnya ARB-lah yang kini menguasai Golkar. Sungguh strategi tinggi yang sangat cerdas. Demi persatuan Golkar, ARB mau menyerahkan tampuk pimpinan kepada kader lain, tapi sesungguhnya kekuasaan tetap berada di tangannya," ujar Riniti.

Sebagaimana diberitakan, Novanto ialah Bakal Calon Ketum Golkar yang disebut-sebut mendapat dukungan kuat dari ARB. Usai Novanto terpilih, beberapa orang dekat ARB langsung diberikan jabatan strategis oleh Novanto.

Mereka di antaranya Idrus Marham yang diberi jabatan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Golkar. Idrus ialah Sekjen DPP Golkar selama tujuh tahun terakhir mendampingi ARB. Ada juga Nurdin Halid, salah satu orang dekat ARB, yang diberi jabatan sebagai Ketua Harian DPP.

Dua nama itu sudah diumumkan Novanto saat penutupan Munaslub. Adapun jabatan lain di DPP Golkar akan dituntaskan oleh Tim Formatur yang dipimpin langsung oleh Novanto selama 15 hari ke depan.

Sementara itu, ARB telah diputuskan dalam sidang paripurna, sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar. Struktur Dewan Pembina itu dihidupkan kembali pada Munaslub kali ini. Sebelumnya, jabatan ini hanya pernah dijabat Soeharto pada zaman Orde Baru.

Pada saat itu, Ketua Dewan Pembina bisa membatalkan keputusan DPP Golkar. Belasan tahun terakhir setelah lengsernya Soeharto, struktur Dewan Pembina ini dihapus dari tubuh Golkar.

Lebih lanjut, Riniti menyinggung soal terpilihnya Novanto kendati rekam jejaknya buruk. "Itu lah politik. Menang karena hasil negosiasi yang menguntungkan banyak pihak," ujarnya.

Beberapa pihak yang mendapat keuntungan itu, pertama Golkar sendiri yang akhirnya bisa ikut pemilu dan pilkada dengan tenang, sebab tidak ada lagi dualisme kepemimpinan. Kedua, menguntungkan pemerintah, karena Golkar tidak lagi jadi oposisi.

Ketiga, masih menguntungkan Ade Komarudin (Akom). Menurut dia, Novanto akan tetap mempertahankan jabatan Akom sebagai Ketua DPR RI karena memilih mundur dari pertarungan putaran kedua dengan Novanto. Terakhir, kata Riniti, keuntungan adanya jaminan keuangan bagi DPD-DPD Golkar. "Novanto adalah ketua umum yang memiliki modal finansial yang kuat," katanya.

Ia menambahkan, untuk membawa Partai Golkar mampu bersaing dalam pemilu mendatang, menurut Riniti, partai Golkar ke depan harus mampu menghapus citra buruknya selama ini. Partai Golkar harus dibranding ulang, menyiapkan strategi politik yang baik, dan menawarkan program-program kekaryaan untuk kesejateraan masyarakat.

"Golkar punya pengalaman panjang dalam partisipasinya mengelola negara. Potensinya besar dan kualitas SDM-nya bagus. Sekarangpun orang-orang Golkar dan mantan kader Golkar tetap berada di lingkaran kekuasaan. Cara mengelola partai ke depan akan menentukan apakah Partai Golkar bisa mendorong kadernya menjadi calon presiden," katanya. (OL/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya