Bersama Lawan Radikalisme

Christian Dior Simbolon
10/5/2016 09:55
Bersama Lawan Radikalisme
(MI/Agus Mulyawan)

ANCAMAN terorisme dan radikalisme tidak bisa hanya diselesaikan di meja konferensi. Butuh persatuan segenap elemen bangsa untuk mengatasinya secara bersama-sama.

Imbauan itu dikemukakan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Internasional Islam Moderat (International Summit of the Moderate Islamic Leaders/Isomil), di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, kemarin.

"Masalah-masalah di dunia Islam tidak mudah, sehingga tidak bisa menyelesaikannya hanya melalui konferensi. Butuh persatuan dan kekuatan kita semua. Apabila semua masalah bisa diselesaikan dengan konferensi, saya pikir akan mudah saja," tegas JK.

Jumlah umat Islam di dunia mencapai 1,6 miliar orang dan tersebar di 57 negara. Jumlah sebesar itu, menurut Wapres, seharusnya dapat menjadi kekuatan untuk menyebarkan kebaikan Islam. Apalagi, kebanyakan negara mayoritas muslim memiliki kekayaan alam yang besar, khususnya minyak bumi dan gas alam.

"Potensi itu seharusnya dapat digunakan sebaik-baiknya dan bukan malah menimbulkan perpecahan di antara umat Islam. Tentu kita menginginkan negara Islam yang moderat. Islam sebagai agama yang memberikan rahmat, kebaikan dan mempersatukan seluruh umatnya. Itulah tujuan dan cita-cita kita semuanya," paparnya.

KTT Isomil yang diselenggarakan untuk pertama kalinya di Jakarta itu dihadiri tokoh-tokoh muslim perwakilan 33 negara, ulama Nahdlatul Ulama, serta sejumlah duta besar negara Islam.

Menurut Ketua KTT Internasional Islam Moderat KH Ma'ruf Amin, tujuan penyelenggaraan konferensi ialah memengaruhi kebijakan publik dalam menyelesaikan ancaman terorisme dan radikalisme.

"Konferensi ini dapat memegang peranan penting dalam menjaga kegiatan dakwah moderat di tengah berkembangnya kelompok-kelompok ekstremis. Harapannya, ini juga bisa berkontribusi untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah," tuturnya.

Amanat Presiden
Isomil merupakan tindak lanjut dari KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jakarta dan Turki beberap waktu lalu.

"Kalau KTT OKI merupakan pertemuan antarkepala negara, Isomil ini pertemuan para ulamanya," jelas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj.

Ia mengaku PBNU mendapatkan amanat dari Presiden Joko Widodo untuk menyelenggarakan acara tersebut sebagai ikhtiar dalam menghalau paham radikalisme di Indonesia dan negara-negara sahabat.

Pertemuan yang berlangsung selama dua hari hingga hari ini itu awalnya akan dibuka Presiden Jokowi. Namun, Presiden berhalangan hadir dan dilimpahkan kepada Wapres untuk membuka.

Dalam pidato berbahasa Arab, Said mengisahkan tentang prinsip kebangsaan yang dipraktikkan pendiri NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asyari.

"Kiai Hasyim memiliki rumusan yang tepat antara agama dan negara, antara prinsip Islam dan kebangsaan. Konsep hubbul wathan minal iman, cinta tanah air sebagian dari iman, berasal dari renungan Kiai Hasyim," ucapnya.

Pesan pendiri NU tersebut, jelasnya, ialah bahwa orang-orang yang tidak berjuang untuk menjaga negara dan bangsa mereka, tingkat keimanan mereka belum sempurna. Ia juga memaparkan makna Pancasila sebagai dasar negara yang sesuai dengan ajaran Islam.(P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya