Kapal Buatan RI Perkuat Filipina

Faisol Taselan
09/5/2016 09:54
Kapal Buatan RI Perkuat Filipina
(Antara/Zabur Karuru)

PT PAL Indonesia untuk pertama kalinya mengekspor kapal perang dalam memenuhi pesanan Kementerian Pertahanan Filipina. Pelepasan ekspor kapal jenis strategic sealift vessel (SSV) yang diberi nama BRP Tarlac (LD-601) itu dilakukan Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Dermaga Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, kemarin.

Wapres menyatakan penghargaan kepada PT PAL karena mampu menyelesaikan pembuatan kapal perang tersebut tepat waktu, yakni dalam durasi 2 tahun.

“Karena untuk pembuatan kapal perang tersebut, PT PAL Indonesia mampu bersaing dengan tujuh negara. Ini sesuai dengan target, 2 tahun sudah selesai,” ujar Kalla.

Ia berharap PT PAL dapat terus mengembangkan teknologi pembuatan kapal. Dengan begitu, penjualan bisa diperluas ke seluruh dunia.

Direktur Utama PT PAL Firmansyah mengatakan Filipina memesan dua buah kapal perang angkut pada 2014 lalu. BRP Tarlac (LD-601) merupakan kapal yang pertama. Nilainya mencapai US$90 juta atau sekitar Rp1 triliun lebih.

SSV BRP Tarlac (LD-601) yang menggunakan klasifi kasi internasional Lloyd Register itu akan berlayar selama 5 hari menuju Filipina. Setelah itu, kapal diserahterimakan kepada Kemen terian Pertahanan Filipina 13 Mei 2016.

Firmansyah mengungkapkan Tarlac merupakan nama provinsi kelahiran Presiden Filipina saat ini, Benigno Sime on Aquino. SSV BRP Tarlac (LD-601) merupakan pengembangan dari kapal angkut jenis landing platform dock (LPD).

Kapal tersebut memiliki panjang 123 meter, lebar 21,8 meter dan kecepatan maksimal 16 knot dengan ketahanan berlayar hingga 30 hari. Daya angkutnya mencapai 500 personel sekali berlayar dan satu helikopter.

“Kapal jenis ini mirip dengan KRI Surabaya yang stand by di Tarakan untuk menyerang Abu Sayyaf. Kapal ini juga mirip dengan KRI yang membebaskan WNI yang disan dera perompak Somalia,” kata Firmansyah.

Penyandera melunak
Proses pembebasan empat warga negara Indonesia (WNI) yang masih disandera kelompok milisi bersenjata di Filipina mulai menemui titik terang. Negosiator pihak Indonesia, Mayjen (Purn) Kivlan Zein, mengungkapkan, penyandera ialah salah satu faksi di Abu Sayyaf yang dipimpin oleh seorang dengan nama sandi Rambo.

“Sudah melunak dengan diplomasi,“ ungkap dia, lewat pesan singkatnya dari Filipina, kemarin. Meski begitu, ia tidak menyebut kepastian waktu pembebasan sandera.

Selain dirinya, tim negosiator itu diisi oleh Nur Misuari, pendiri kelompok Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) yang disebut Kivlan bekas atasan pimpinan penyandera.

Saat dihubungi terpisah, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PPP Syaifullah Tamliha menyebut upaya diplomasi intelijen sudah tepat. Itu akan jauh meminima lisasi korban dan biaya. “Intel kita juga tidak hanya sebatas (berkemampuan) militer. Mereka juga ulama, kiai, orang Solok atau Jolo, Filipina, yang bisa dijadikan agen di sana.“

Empat WNI yang masih disandera ialah Aryanto (kapten), Piter, Dede, dan Samsir (juru mudi). Keempatnya merupakan anak buah kapal kapal tunda TB Henry dan kapal tongkang Christy, yang dibajak saat dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina, ke Tarakan, Kalimantan Utara, April lalu. (Kim/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya