Posisi Menteri Desa Jadi Primadona

Rudy Polycarpus
17/4/2016 22:13
Posisi Menteri Desa Jadi Primadona
()

KURSI Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) menjadi posisi yang paling rawan dan diincar partai politik dalam reshuffle jilid II ini.

Persaingan untuk posisi itu, kata Direktur Eksekutif LIMA Ray Rangkuti masih berkutat antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kedua partai disebut, berkukuh mendapatkan pos tersebut.

Saat ini, posisi Mendes PDT dijabat Marwan Jafar dari PKB. Menurut Ray, Presiden Joko Widodo tengah terbebani oleh dua partai koalisi tersebut.

"Kemendes dulu tidak diperhitungkan, sekarang diperebutkan, karena setiap desa dianggarkan Rp1 miliar. Posisi Mendes sangat strategis dimanfaatkan partai politik jelang pemilu serentak, bahkan pemilu presiden dan legislatif," ujarnya dalam diskusi yang bertajuk "Gaduh Partai Jelang Reshuffle Jilid II: Mau Ke Mana?", di Jakarta, Minggu (17/4).

Ray mengatakan partai yang berhasil mendapatkan kursi Mendes ke depannya akan diuntungkan oleh citra sebagai partai yang berkontribusi dalam membawa perubahan untuk desa. Sebagian besar pemilih pun berdomisili di desa.

"Persoalan Pak Jokowi sekarang ini adalah bagaimana mengakomodir kepentingan parpol, ternyata yang paling rumit bagaimana menempatkan posisi parpol di dalam kabinet," tandas Ray.

Begitu strategisnya posisi Mendes, ujar Ray, partai-partai bersedia jatah menterinya dikurangi asal mendapatkan posisi Marwan. Hal ini membuat posisi Presiden menjadi dilematis, padahal pada satu sisi harus obyektif.

Perebutan kursi Mendes ini, menurut Ray, menjadi salah satu penyebab perombakan kabinet tak kunjung dilakukan. "Kalau tidak ada ketegangan antara PDI-P dan PKB ini saya pikir sudah sejak awal April pak Jokowi sudah umumkan (reshuffle)," imbuhnya.

Lebih jauh dia mengingatkan koalisi pendukung pemerintah tak menjadi beban Presiden Jokowi saat hendak melakukan perombakan kabinet. Ray juga menyarankan, presiden tidak melakukan reshuffle kabinet hanya untuk memuaskan satu atau dua partai politik. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya