Romy Tawari Djan Faridz Posisi Nyaman di Partai

Arif Hulwan
10/4/2016 09:21
Romy Tawari Djan Faridz Posisi Nyaman di Partai
(MI/Adam Dwi)

Suryadharma Ali berharap kepemimpinan baru PPP membawa kemajuan. Ketua umum terpilih akan akhiri perpecahan.

SETUMPUK pekerjaan rumah menggantung di pundak Romahurmuziy pascaterpilih menjadi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam Muktamar VIII PPP di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, kemarin.

Pekerjaan rumah yang tidak enteng, terlebih Romy telah mencanangkan partai berlambang Kabah itu harus menjadi tiga besar dalam Pemilu 2019. Oleh karena itu, Romy mesti bekerja ekstra keras merangkul kader yang berada di kubu seberang.

"Tidak mudah memimpin partai yang pernah terbelah selama 1,5 tahun. Saya harap ini mengakhiri perpecahan. PPP harus diurus secara bersama-sama," kata Romy dalam pidato setelah terpilih menjadi ketua umum secara aklamasi.

Romy pun berjanji menggandeng semua pihak yang masih belum sepakat atau yang dulu pernah tidak sepakat dengannya. Dia menyatakan mula-mula akan memasukkan Wardatul Asriah, istri Ketua Umum PPP hasil Muktamar Bandung Suryadharma Ali (SDA) dalam kepengurusan DPP PPP hasil Muktamar Pondok Gede. Romy pun segera merancang pertemuan dengan SDA.

Setelah itu, Romy juga siap merajut komunikasi dengan Ketua Umum PPP hasil Muktamar Jakarta Djan Faridz. "Saya akan mengajak beliau ke dalam kepengurusan ini, di mana pun posisi yang beliau merasa nyaman."

Saat menanggapi pernyataan Romy tersebut, Wardatul Asriah menyampaikan ucapan salam SDA yang kini berada di Rutan Guntur Jakarta Selatan akibat terjerat kasus korupsi di Kementerian Agama. "SDA telah memberi restu. Dengan kepemimpinan baru ini, dia berharap PPP lebih maju. Salam sayang dari SDA.

"Sekjen PPP hasil Muktamar Jakarta Achmad Dimyati Natakusumah menyebutkan muktamar PPP di Pondok Gede hanya sebagai ajang silaturahim. Baginya, kubu Jakarta berpegang pada putusan MA yang telah berkekuatan hukum tetap. "Kalau tidak sesuai prosedur, saya tidak mau (ikut). Kalau sesuai hukum, saya mau. Itu prinsip saya."

Tentang kehadiran Presiden Jokowi saat pembukaan muktamar (Jumat, 8/4) Dimyati menganggapnya tidak beda dengan kehadiran Presiden pada pertemuan buruh, misalnya. Dimyati pun menolak klaim adanya keikutsertaan kubu Jakarta lewat kehadiran Epyardi Asda, Wardatul Asriah, dan Fernita Darwis. "Itu inisiatif pribadi."

Libatkan KPK

Suasana muktamar PPP kemarin sempat diwarnai perdebatan keras soal mekanisme pemilihan ketua umum sebagaimana tata tertib muktamar. Wakil Ketua Umum PPP hasil muktamar Ban dung Hasyrul Azwar, pemimpin sidang, menawarkan mekanisme musyawarah untuk mufakat. Namun, para muktamirin memprotes. Epyardi Asda, mantan Wakil Ketua Umum PPP hasil Muktamar Jakarta, menyela musyawarah mufakat hanya bentuk lain aklamasi untuk mengarahkan terpilihnya seorang kandidat. Dia pun lalu menyodorkan mekanisme voting agar lebih demokratis.

Sesi muktamar berganti ke pemilihan ketua umum. Pimpinan sidang berganti ke tangan Suharso Monoarfa. Tidak lebih dari semenit membuka sidang, Ketua Panitia Pengarah Muktamar itu pun menyebutkan nama Romy untuk didiskusikan lewat jalur musyawarah mufakat.

Tidak butuh waktu lama, muktamirin serempak menyuarakan kor 'setuju!' Kumandang salawat pun menggema. Suharso mengetukkan palu dan Romy pun dibopong beramai-ramai ke podium oleh para peserta.

Suharso mengakui muktamar PPP kali ini melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Jadi, dijamin enggak ada politik uang dalam pemilihan ketua umum." (X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya