Melawan Kodrat tanpa Keangkuhan

Arif Hulwan/P-1
10/4/2016 07:45
Melawan Kodrat tanpa Keangkuhan
(ANTARA/Sigid Kurniawan)

DARI langit selatan yang berawan terdengar bunyi nyaring. Dua burung besi terbang cepat bersusun rapat melaju di ketinggian menengah. Pesawat yang ada di atas dalam posisi berkebalikan dengan pesawat di bawah. Manuver Cermin. Asap putih kembar mengikuti.

Keduanya melintas di depan podium utama peringatan HUT ke-70 TNI Angkatan Udara, di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin. Saat hampir tiba di dekat ujung landasan, pesawat memutar 180 derajat. Ekor dan sayap kedua pesawat nyaris bersenggolan.

Ibu-ibu dan remaja putri berteriak histeris. Nyatanya, dua pesawat itu mulus berlanjut membelah langit. Tepuk tangan berderap dari ratusan undangan dan warga.

Itu salah satu manuver Jupiter Aerobatic Team (JAT) TNI-AU yang menggunakan pesawat KT-1B Woong Bee buatan Korsel. Selain JAT, penampilan atraktif ditampilkan para penerjun payung TNI-AU dan flypass composite strike.

Ada pula simulasi serangan udara yang dilakukan empat Sukhoi 27/30, dua F-16 C/D, empat Hawk 100/200, dan T-50i Golden Eagle. Deru kering jet tempur dan dentuman simulasi serangan misil udara mendominasi.

"Deg-degan lihat pesawat-pesawat yang ngebom-ngebom itu, tetapi bangga juga. Kita punya juga seperti yang di film-film," aku Renita, ibu yang mengajak anak balitanya sambil sesekali menutup kuping.

Kepala Staf TNI-AU Marsekal Agus Supriatna mengatakan ragam manuver maut yang diperagakan pilot-pilotnya ialah bagian dari hidup penerbang yang berupaya melawan kekuatan alam dalam bentuk gravitasi. Tidak ada waktu untuk ketidakseriusan dan keangkuhan. Kepatuhan pada perhitungan dan keteguhan hati harus jadi pegangan.

"Kami penerbang ini, semua personel, kan sudah melawan kodrat hidupnya. Harusnya kita hidup dengan gaya gravitasi, satu di darat, menghirup oksigen yang enak, kami bermain-main di udara," ucap Agus.

Tidak cuma dari sisi manusianya, KSAU menyebut perlunya pembaruan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI-AU. Pemerintah telah menjamin pengadaan sesuai rencana strategis minimum essential forces (MEF) tahap II akan berlanjut.

"Wilayah Indonesia itu 2/3-nya ialah laut, tetapi jarang dipahami secara utuh, bahwa 3/3 wilayah Indonesia ialah (dinaungi) udara. Karena itu, harus didukung oleh kekuatan udara yang capable," cetus Agus, dalam pidatonya di HUT TNI-AU itu.

Anggota Komisi I DPR Effendi Simbolon menyatakan prioritas anggaran salah satunya diberikan pada alutsista TNI-AU dan TNI-AL. Pemangkasan anggaran di RAPBN Perubahan 2016 pun tidak memengaruhi itu.

Peringatan HUT TNI-AU itu tidak dihadiri Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang kabarnya tengah mengurusi pengadaan Sukhoi-35 dan kapal selam dari Rusia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya