Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PIMPINAN Pusat (PP) Muhammadiyah telah menyiapkan enam dokter untuk mengautopsi jenazah Siyono, terduga teroris yang mati ketika berada dalam tahanan Detasemen Khusus (Densus) 88. Autopsi bakal dilakukan sejalan dengan permintaan istri Siyono, Suratmi.
Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, autopsi dilakukan sebagai upaya mencari tahu penyebab pasti kematian Siyono. Namun demikian, Dahnil belum bisa memastikan kapan tepatnya autopsi bakal dilakukan.
"Yang pasti dalam waktu dekat akan kita lakukan. Ada enam dokter ahli forensik dari RS Muhammadiyah sudah disiapkan. Ini sesuai permintaan Suratmi yang minta didampingi Muhammadiyah dalam mencari keadilan," ujar Dahnil dalam konferensi pers di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Jumat (1/4).
Selain Dahnil, turut hadir dalam konferensi pers tersebut, anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Maneger Nasution, Kepala Divisi Pembela Hak Sipil Kontras Putri Kanesia, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti, dan perwakilan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat lainnya.
Daniel mengatakan, pihaknya telah menerjunkan sejumlah anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda (Kokam) Muhammadiyah untuk menjaga rumah Suratmi dan kuburan Siyono di Desa Kobung, Kecamatan Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Pasalnya, saat ini Suratmi merasa terteror akibat keberadaan sejumlah orang tidak dikenal yang kerap berkeliaran di sekitar rumahnya.
"Aparatur desa juga terkesan meneror dia (Suratmi). Termasuk kuburan Pak Siyono juga kita jaga 24 jam secara bergantian. Ini juga untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sebelum autopsi," ungkap Dahnil.
Siyono diduga tewas saat berada di dalam tahanan Densus 88. Investigasi Kontras menyebut terjadi pelanggaran hak asasi manusia dalam proses penangkapan dan tewasnya Siyono. Saat penangkapan misalnya, Suratmi dan keluarga tidak diberi surat tembusan terkait penangkapan Siyono.
Selain itu, menurut Putri, saat dikembalikan dalam keadaan tak bernyawa kepada Suratmi, jenazah Siyono pun penuh dengan luka lebam. "Keluarga melihat jenazah ada luka memar di pipi, lebam di mata kanan, patah tulang hidung, kondisi kaki dari paha hingga betis membengkak dan memmar dan salah satu buku jari hampir patah," jelasnya.
Putri mendukung langkah autopsi yang bakal dilakukan PP Muhammadiyah. Namun demikian, menurut Putri, Muhammadiyah juga harus melaporkan kasus ini kepada polisi dan meminta polisi menggelar autopsi ulang. Pasalnya, sesuai KUHP, hanya bukti otopsi dari kepolisian yang diakui di persidangan.
"Memang perlu sebagai second opinion. Tapi sesuai aturan, hanya autopsi polisi yang diakui. Bisa saja autopsi kemudian dilakukan bersama-sama dan ada tim independen yang mengawasi," ujar dia. (Deo/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved