Jokowi Akan Bawa Nasib Hambalang ke Rapat Terbatas

Astri Novaria
18/3/2016 16:45
Jokowi Akan Bawa Nasib Hambalang ke Rapat Terbatas
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

PROYEK prestisius olahraga Indonesia, Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, kembali menjadi perhatian pemerintah.

Setelah mangkrak hampir empat tahun lamanya, Jumat (18/3), Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau langsung ke Wisma Atlet P3SON untuk mengetahui kondisi riil bangunan berlantai empat tersebut.

Megaproyek yang sebelumnya menggelandang mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng ke jeruji besi tersebut sejatinya dimulai pada 2010 silam.

Areal seluas 32 hektare sudah disiapkan untuk mendirikan sejumlah komplek 18 cabang olahraga. Bahkan, asrama putra dan putri pun seharusnya sudah bisa digunakan. Di antaranya malah sudah dipasang Air Conditioner (AC) untuk membuat nyaman atlet nantinya. Demikian pula kasur serta fasilitas interior lain juga masih terbungkus.

Berdasarkan pantauan langsung Media Indonesia, P3SON Hambalang justru terlihat memprihatinkan. Proyek yang ditaksir menelan biaya Rp1,2 triliun itu tidak terawat, ditandai dengan rumput ilalang yang tumbuh liar dan mencapai tinggi sekitar 2 meter. Beberapa bagian tanah di sejumlah sisi juga terlihat amblas.

Satu-satunya lokasi yang masih terlihat cukup terawat ialah masjid yang berada setelah pintu gerbang utama ke areal tersebut. Akses jalan menuju P3SON Hambalang juga masih harus diperbaiki. Bus yang ditumpangi awak media ke lokasi itu harus berjibaku melewati jalan bergelombang, sebagian berlumpur, dan juga digenangi air.

Jokowi yang saat itu mengenakan kemeja putih tampak dengan santai melewati genangan air dan ilalang untuk masuk ke dalam gedung. Namun, Presiden tampak berkali-kali menggelengkan kepalanya melihat buruknya kondisi proyek yang baru berjalan sekitar 30% tersebut.

Ia lalu menaiki tangga yang langsung menghubungkan ke lantai 3 bangunan. Kondisi tangga itu pun ditumbuhi rumput-rumput liar. Di lantai 3 gedung itu, Jokowi berkeliling dan terlihat serius berbicara dengan Menpora Imam Nahrawi serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono yang turut mendampinginya.

Tampak di lantai 3 gedung itu besi-besi cor yang sudah karatan dan bata-bata dinding yang sebagian dibiarkan 'telanjang' sebagai tanda proyek yang belum tuntas dibangun.

"Pak Menteri Olahraga seminggu yang lalu sudah ke sini. Kemudian dua hari yang lalu melaporkan kepada saya mengenai kondisi lapangan yang ada di Hambalang. Oleh sebab itu, saya ingin melihat langsung kondisi riilnya seperti apa," ujar Jokowi.

Pemerintah mengaku masih gamang apakah akan tetap melanjutkan proyek itu atau dibiarkan tetap mangkrak. Keputusan ini, sambung Jokowi, akan dibawanya dalam rapat terbatas. Menurutnya, yang terpenting saat ini ialah menyelamatkan aset negara.

"Karena ini sudah menghabiskan anggaran triliunan (rupiah), perlu diputuskan apakah dilanjutkan atau tidak. Kalau dilanjutkan untuk apa. Apakah masih seperti yang lama untuk sekolah olahraga, atau mungkin diubah bisa saja menjadi jadi tempat latihan nasional, rusunawa, atau lainnya. Atau pilihan kedua, dibiarkan seperti ini. Sekali lagi, yang penting ialah penyelamatan aset negara, kuncinya di situ," lanjut Presiden.

Namun demikian, kata Jokowi, apabila dibiarkan artinya pemerintah tak hanya kehilangan anggaran yang berjumlah besar melainkan juga kehilangan aset negara. Terlebih, di gedung itu terdapat sejumlah perabotan seperti AC, kasur, lemari, yang dibiarkan ditumpuk di kamar-kamar.

Presiden Jokowi mengatakan peralatan dan mebel tersebut memang masih ditangani kasus hukumnya di Kejaksaan Agung.

Namun, ia memerintahkan Kementerian PU dan Pera untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi bangunan dan lingkungan sekitar untuk selanjutnya menentukan langkah apa yang akan diambil terhadap proyek tersebut. Struktur bangunan yang ada juga sesungguhnya tidak memenuhi standar untuk bangunan di wilayah perbukitan.

"Kalau tidak cepat diputuskan akan rusak semuanya. Menteri PU juga melihat, apakah tanah yang labil di sini memungkinkan untuk ini diteruskan? Karena info yang saya terima tanah ini labil, ini nanti perlu di Balitbang PU untuk mengecek lagi memungkinkan atau tidak. Struktur bangunan kan bisa dilihat, harusnya besinya besar. Tapi ternyata setelah dicek di lapangan besinya kecil. Kemudian, pondasi, harusnya 3 meter, ternyata 1 meter. Nah, ini yang akan dicek semuanya secara total," paparnya.

Jokowi juga akan memerintahkan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mengetahui potensi kerugian yang terjadi, serta menentukan langkah ke depan. (Nov/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya