Musim Semi Politik Kesukarelaan

Denny Arianto
13/3/2016 09:15
Musim Semi Politik Kesukarelaan
(ANTARA/Puspa Perwitasari)

Kontestasi politik ke depan bakal diwarnai gerakan dan partisipasi publik, khususnya anak muda.

"ANAK-ANAK muda di sini memang sengaja bantu secara ikhlas supaya Pak Ahok bisa kembali maju menjadi calon gubernur." Kalimat itu meluncur dari mulut Muhammad Yazid di sela kesibukannya melayani keinginan warga permukiman di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, memberikan KTP dukungan kepada Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Yazid ialah satu dari ratusan relawan yang tengah berjuang untuk membuka jalan bagi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berkontestasi di pilkada tahun depan tanpa perlu terikat pada partai politik. Bersama Teman Ahok, ia secara sukarela mengumpulkan KTP dukungan warga sebagai syarat bagi Ahok maju lewat jalur perseorangan.

Semangat besar Ahok untuk mengubah wajah Ibu Kota meletupkan gairah anak-anak muda tersebut. Apati politik yang sempat membelenggu berubah menjadi kepedulian demi hadirnya perubahan.

Salah satu penggagas Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas, mengutarakan sebagian besar relawan datang dari kalangan mahasiswa dengan usia 19-24 tahun. Ada lebih dari 400 relawan yang resmi bergabung di Teman Ahok. "Sebanyak 400 orang itu yang langsung di bawah naungan kami, belum lagi yang lain. Menurut kami, pengumpulan KTP memang jalan paling mungkin dilalui Ahok maju melalui jalur nonpartai," ungkapnya, kemarin.

Jalur independen untuk Ahok gencar diupayakan karena nantinya ia hanya berutang kepada rakyat, bukan kepada partai politik. Soal kegigihan, Teman Ahok sama sekali tak disangsikan. Meski harus mengumpulkan KTP dukungan dari awal lagi karena Ahok sudah memastikan Heru Budi Hartono sebagai calon wagub, semangat mereka tak surut. Formulir dukungan sudah disebar ke 149 posko dan sambutan warga luar biasa besar.

Teman Ahok juga menggalang dana operasional secara mandiri. Beragam aksesori beraroma Ahok seperti kaus, lukisan, kalung, gelang, dan boneka mereka jual di delapan stan di pusat-pusat perbelanjaan. Total, dana Rp797.376.000 pun terkumpul dan pengeluaran mencapai Rp762.978.864.

Politik kesukarelaan seperti Teman Ahok sebenarnya bukan yang pertama. Sebelumnya, relawan semacam itu ada di belakang Joko Widodo dan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2012. Relawan pun menjamur dan ikut berjasa mengantarkan Jokowi-Jusuf Kalla memenangi Pilpres 2014.

Tren politik

Relawan telah unjuk eksistensi dalam perpolitikan negeri ini. Mereka kian bersemi seiring dengan munculnya tokoh-tokoh yang bersih, kredibel, dan berintegritas. "Ini tren yang akan menjadi kultur politik Indonesia di masa depan," ujar Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti.

Menurutnya, kontestasi politik bakal diwarnai gerakan dan partisipasi publik, khususnya anak muda, yang secara terang-terangan mendukung calon-calon pilihan mereka. Keberadaan relawan politik dan munculnya calon-calon perseorangan merupakan sentilan bagi partai politik.

Berseminya politik kesukarelaan, imbuh Ray, sangat positif karena partisipasi publik semacam itu dapat meminimalisasi terjadinya transaksi politik. "Yang ada transaksi ide. Biaya juga makin berkurang karena tak ada lagi mahar dari calon untuk mendapatkan partai sebagai perahu.''

Direktur Polcomm Institute Heru Budianto mengatakan menggalang komunitas relawan politik merupakan hal yang lumrah dalam setiap perhelatan politik. Bukan hanya di DKI Jakarta, hal itu terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia. "Ini model baru. Model kampanye anak-anak muda sekarang yang beda dengan model mobilisasi konvensional dan bisa menembus komunitas-komunitas masyarakat. "Lantas apakah model kampanye dan bentuk partisipasi publik semacam Teman Ahok lebih efektif? "Sudah dibuktikan oleh Jokowi, toh," jawab Heru. (Deo/X-9)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya