Keterwakilan Perempuan di Parlemen Krusial

MI
10/3/2016 11:55
Keterwakilan Perempuan di Parlemen Krusial
(Ketua BKSAP DPR RI Nurhayati Ali Assegaf saat menjadi pembicara di High Level Event OECD di Paris---DOK. BKSAP DPR RI)

SETENGAH dari total jumlah populasi penduduk dunia adalah perempuan. Sayangnya, keberadaan perempuan di parlemen dunia masih sa­ngat kecil jika diban­dingkan dengan laki-laki. Padahal, perempuan telah berkontribusi banyak bagi pertum­buhan ekonomi dan keamanan global.

"Karena itu keterwakilan perempuan sangat krusial. Namun, saya sangat menyayangkan jumlah keterwakilan perempuan di banyak negara yang hingga saat ini masih sangat rendah," ujar Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Nurhayati Ali Assegaf saat menjadi pembicara di high level event di Paris, Prancis, kemarin (Rabu, 9/3).

Acara yang digagas Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) itu digelar dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Acara itu mengusung isu akses perempuan pada kepemimpinan, dengan tema “Rekomendasi OECD untuk Meningkatkan Keterwakilan Perempuan dalam Pengambilan Keputusan di Semua Lini.” Untuk meningkatkan jumlah perempuan di parlemen, lanjut Nurhayati, harus ada perubahan dalam tiga hal, yakni perubahan kultu­ral, struktural, dan dukungan finansial.

"Perubahan pertama, kita harus mengubah persepsi bahwa politik adalah arena laki-laki. Kedua, memperbanyak pendidikan politik perempuan, agar mudah merekrut calon yang memiliki kapabilitas politik," tandasnya.

Yang terakhir, sambung politikus Demokrat itu, memberikan dukungan finansial bagi calon legislatif perempuan. "Dukungan finansial ini penting karena aktivitas politik membutuhkan dana yang cukup besar sementara banyak perempuan yang tak berada dalam posisi mandiri secara finansial," tuturnya.

Berdasarkan laporan tentang perempuan dan parlemen yang dirilis Inter-Parliamentary Union (IPU) menyebutkan meski jumlah perempuan yang menjadi anggota parlemen di seluruh dunia meningkat sebanyak 0,5% menjadi 22,6%, jumlah itu masih kecil. Bahkan jika dibandingkan dengan 2013, masih ada penurunan sebesar 1,5%.

Di Indonesia sendiri, walau secara keseluruhan persentase anggota parlemen perempuan menunjukkan peningkatan, jumlah anggota parlemen perempuan periode ini (2014-2019) hanya 17,3% , menurun dari periode lalu (2009-2014) yang mencapai 18,2%.

IPU juga mencatat tren anggota parlemen perempuan di tingkat regional. Amerika memiliki 27,2% anggota parlemen perempuan, naik 0,8% dari periode sebelumnya.

Tren serupa juga terlihat di Afrika, meningkat 0,7% menjadi sebesar 23,2%. Sementara itu, di negara-negara Eropa, jumlah anggota parlemen perempuan ada kenaik­an 0,4% menjadi 25,4%; di negara-negara Arab meng­alami peningkatan sebesar 0,3% menjadi 17,5%.

Sebaliknya, jumlah anggota parlemen perempuan di negara-negara Asia-Pasifik masih berada dalam angka stabil, hanya ada kenaikan sebesar 0,1%.

Ketika mengomentari lapor­an itu, Nurhayati meng­akui langkah-langkah yang diambil partai politik di beberapa negara untuk meningkatkan jumlah anggota parlemen perempuan menunjukkan bahwa perubahan positif dalam politik dapat terjadi jika ada visi dan kemauan yang kuat.

"Saya berharap dengan adanya penetapan target global baru tentang kese­taraan gender dan partisipasi perempuan, akan ada perubahan pola pikir dalam hal partisipasi politik," pungkas Nurhayati.(RO/S-25)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya