Anak-Anak Ahmadiyah Kini Trauma

Nur Aivanni
04/2/2016 03:45
Anak-Anak Ahmadiyah Kini Trauma
Barahim anak warga Ahmadiyah bersama teman sebayanya memegang secarik kertas yang berisi harapan kepada Presiden Joko Widodo.(MI/Yusuf Riaman)

KOMISIONER Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfah Anshor mengatakan anak-anak warga Ahmadiyah di Kelurahan Srimenanti, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, mulai terkena dampak akibat ancaman pengusiran.

"Dampak ancaman pengusiran Ahmadiyah dari wilayah Bangka terhadap anak-anak Ahmadiyah di Srimenanti mulai bermunculan," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurut Maria, salah seorang anak Ahmadiyah mendapat ancaman dari teman sekelas bahwa Jumat (5/2) nanti ia akan disembelih.

Saat mendengar hal itu, anak langsung gemetar dan berharap bisa tetap tinggal di Srimenanti.

"Anak itu langsung gemetar. Dengan gaya khas anak-anak, ia mengaku tetap ingin bisa main bersama teman-teman di sekolah ataupun di dekat rumahnya," jelas Maria.

Ia menambahkan, ada dua anak Ahmadiyah lainnya yang sampai saat ini mengalami trauma dan sakit.

Mereka sama sekali tidak mau pindah meskipun mengalami trauma luar biasa yang disebabkan ancaman pengusiran oleh Bupati Bangka Tarmizi.

"Malam lalu, salah satunya mengigau karena bermimpi buruk. Anak itu menceritakan mimpinya yang sangat menakutkan. Dia menyaksikan penyerangan massa yang intoleran ke rumah anak Ahmadiyah ini," terangnya.

Perkuat tekanan

Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengapresiasi Mendagri Tjahjo Kumolo yang telah meminta Bupati Bangka mencabut surat pengusiran.

Permintaan tersebut, lanjutnya, harus diperkuat oleh semua pihak karena Tarmizi ternyata menolak mencabut.

"DPRD bertindak, pemerintah provinsi, gubernur harus mencabut dan membatalkan surat. Kementerian Dalam Negeri pun mesti segera berkoordinasi dengan kepolisian setempat untuk mencegah terjadinya upaya paksa mengusir warga Ahmadiyah," tegas Bonar.

Di sisi lain, Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Provinsi Bangka Belitung meminta warga tidak berbuat anarkistis terhadap warga Ahmadiyah yang menolak pindah.

"Kita harapkan nanti masyarakat tidak berbuat anarkistis," ujar Ketua PW GP Ansor Bangka Belitung Masmuni Mahatma.

Menurut Masmuni, pihaknya sudah sepakat dengan Kapolres Bangka Ajun Komisaris Besar Sekar Maulana untuk menarik semua Banser NU dari permukiman Ahmadiyah dan menyerahkan kepada aparat hukum.

"Kita sudah sepakat menyerahkan pengamanan warga Ahmadiyah ke Polres," kata dia.

Ia menambahkan, bila ada warga yang berbuat anarkistis, GP Ansor akan menurunkan Banser, tetapi dengan izin aparat kepolisian.

"Kalau sampai anarkistis, kami akan minta izin untuk turun membantu mendampingi warga Ahmadiyah," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung Amri Cahyadi mendukung warga Ahmadiyah di Srimenanti untuk pindah. Menurutnya, bahasa yang digunakan jangan diusir melainkan direlokasi.

"Lebih bagus mereka direlokasi. Kalau memungkinkan di Kabupaten Bangka. Kalau tidak, di kabupaten lain di Provinsi Bangka-Belitung," terang Amri Cahyadi.

(Nyu/RF/P-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya