Corak Islam Muncul setelah Reformasi

Nur Aivanni
26/8/2015 00:00
 Corak Islam Muncul setelah Reformasi
()
Corak Islam di Indonesia mulai muncul pascareformasi. Itu tak lepas dari adanya demokrasi di Indonesia. Hal itu diutarakan oleh generasi pertama program Kemitraan Beasiswa Pendidikan Islam/PIES (2008-2009) Marzuki Wahid.

"Ini kuncinya pada demokrasi. Demokrasi yang memainkan peran sehingga aliran keislaman muncul di reformasi," ujarnya saat ditemui dalam peluncuran buku 'Islam Indonesia Pasca Reformasi: Dinamika Keagamaan', di Jakarta, Selasa (25/8).

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Dr Justin Lee bersama penulis buku tersebut, antara lain Khodafi, Rizal Darwis, M Khusna Amal, Dwi Setianingsih, dan Imelda Wahyuni.

Marzuki menambahkan Islam ekstrem kiri dan ekstrem kanan muncul pascareformasi. Mereka saling berkontestasi dan berkompetisi. Untuk itu, menurutnya, peran pemerintah diperlukan.

"Kalau negara ini kuat menjadi fasilitator dari seluruh pluralitas ini akan bagus bagi peradaban ke depan. Tapi negara belum mampu memfasilitasi ini," ujarnya.

Ia menyampaikan Islam di Indonesia seharusnya Islam yang menyesuaikan budaya Indonesia.

"Islam kita seharusnya Islam Nusantara. Islam yang menusantara. Jadi bukan Islam Arab, Timur Tengah, Eropa, atau lainnya. Karakter Islam nusantara itu toleran," jelasnya.

Ia pun mengakui masyarakat Islam di Indonesia demikian adanya dibanding dengan masyarakat Islam di negara lain.

Adapun sikap toleran tersebut tidak lepas dari adanya peran pemerintah. "Memang ada peran pemerintah, tapi pemerintah belum begitu tegas dalam memelihara pluralitas," katanya.

Dikatakan, kalaupun ada pergelokan di tengah masyarakat bukan masalah perbedaan agama yang menjadi faktor utamanya, melainkan adanya intervensi politik.

"Agama hanya dijadikan alat untuk kepentingan politik tertentu. Agama itu hal yang sensitif. Misalnya, kasus antara Ahmadiyah dengan Non-Ahmadiyah di Kabupaten Kuningan, Cirebon," tuturnya.

Adapun buku Islam Indonesia pascareformasi tersebut, menurutnya, memberikan penjelasan mengenai keberagaman Islam di Indonesia dan pertarungan dengan wacana-wacana global. "Penjelasan yang cukup bagus untuk menjelaskan Islam Indonesia atau Islam Nusantara," tandasnya.

Sementara itu, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia berharap peluncuran buku tersebut bisa membangun pemahaman Islam di Indonesia baik di Indonesia maupun bagi warga Australia.

"Ini adalah koleksi yang sangat penting yang merekam aspek sosial, ekonomi dan politik dari Islam setelah reformasi politik yang nyata disini. Serta, ini menekankan pentingnya inisiatif-inisiatif semacam PIES untuk membangun pemahaman yang lebih besar bagi warga Australia mengenai Islam di Indonesia dan bagi warga Indonesia, sebuah kesadaran yang semakin besar akan masyarakat Australia yang multikultur," tuturnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya