Antisipasi Provokator di Papua, Menkopolhukam Percepat Dirikan Situs Khusus

M Rodhi Aulia
19/8/2015 00:00
 Antisipasi Provokator di Papua, Menkopolhukam Percepat Dirikan Situs Khusus
(MI/Adam Dwi)
Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan mengaku senang jika banyak orang asing berkunjung ke Indonesia, termasuk Papua. Kendati orang asing itu adalah wartawan. Sebab, kata Luhut, akan banyak uang yang mengalir ke Indonesia.

"Kita enggak nyari kesalahan orang. Kalau mau datang ke sini (Papua), datang aja. Kan bagus. Dapat uang kita. Turis dia. Nyewa hotel, kan uang masuk itu," kata Luhut kepada wartawan di Kantor Kemenkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (18/8) malam.

Namun sebagai negara berdaulat, warga asing itu harus mentaati peraturan yang berlaku. Seperti peraturan keimigrasian. Luhut menyayangkan sejumlah wartawan asing tersebut tidak mengindahkan itu semua. Sehingga, ketika dipersulit masuk, Luhut dengar ancaman wartawan itu untuk mempersepsikan Indonesia buruk di mata dunia. Pemerintah Indonesia, tidak akan takut.

"Rata-rata pelanggaran imigrasi. Mereka itu berbohong mengenai tujuan mereka ke sana (Papua). Kalau dia mau datang, beritahu aja. Enggak ada masalah kan. Asal jangan memprovokasi kita," terang Luhut tanpa merinci identitas wartawan asing tersebut.

"Repotnya kita, orang asing itu suka menganggap kita warga negara yang bisa didikte, begitu. Seperti kasusnya dua orang Inggris yang melanggar di Batam. Ya kita proses. Nanti kalau di pengadilan dianggap selesai, ya dideportasi. Selesaikan. Tapi enggak usah dibesar-besarkan. Itu biasa. Di manapun kalau melanggar aturan ya, diproses secara hukum," imbuh dia.

Luhut berjanji, dalam waktu dekat pihaknya akan mendirikan situs khusus untuk mengimbangi pemberitaan apapun, khususnya Papua. Sebab, pemberitaan Papua selama ini kerap menuding seolah-oleh Pemerintah pusat tidak perduli dan menelantarkan begitu saja.

"Ya kita segera. Website itu dalam konteks badan cyber. Saya kira pak Agus Barnas akan meneliti. Ya, tentu memberikan berita. Semualah. Terutama masalah Papua, yang selalu beritanya itu, di-twist (plintir). Kita tidak maulah. Kita harus memberi tahu berita yang sesungguhnya. Negara ini kan negara besar. Ya kita ada kurang, pastilah. Kalau ada kurang, kita minta maaf. Tapi, kalau kita di-bully, kita enggak salah, ya ga mau dong," beber Luhut. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya