Gelar Upacara Kemerdekaan di Tambang Perut Bumi

Jajang Sumantri
17/8/2015 00:00
 Gelar Upacara Kemerdekaan di Tambang Perut Bumi
(ANTARA/Puspa Perwitasari)
UPACARA bendera memang bukan ukuran yang paling nyata untuk menggambarkan level nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air. Namun saat peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 dihelat di dalam perut bumi, upaya menunjukkan rasa cinta Tanah Air, syukur dan penghargaan terhadap jasa para pahlawan tersebut terasa berbeda dan istimewa.

Itulah yang dilakukan para pegawai tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia (PTFI) Tembagapura, Papua. Tepat pukul 10.00 waktu Indonesia Timur (WIT), para pegawai dan jajaran direksi Freeport berkumpul di area tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ).

Di lokasi tambang dengan lebar sekitar 20 meter persegi dan tinggi 30 meter dengan ke dalaman sekitar 1,6 kilometer di bawah puncak tambang terbuka Grasberg dan berada di ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut itulah upacara memperingati detik-detik proklamasi itu digelar.

"Upacara di tambang bawah tanah digelar atas permintaan karyawan yang bekerja di area tersebut. Mereka pun ingin bisa turut bergembira atas HUT RI ke-70 ini," ujar Presiden Direktur PTFI Maroef Sjamsoeddin usai perhelatan tersebut, hari ini.

Karena aspirasi para karyawan tambang bawah tanah itu pula akhirnya PTFI menggelar dua kali upacara bendera.

Upacara pertama digelar di sporthall Tembagapura, kota terintegrasi di tengah hutan pegunungan Jayawijaya yang telah ada sejak Freeport memulai operasi tambang Eastberg dan Grasberg tiga dekade lalu. Peringatan HUT RI yang dimulai pukul 08.00 WIT di lapangan sepak bola berstandar internasional itu memang rutin digelar setiap tahun di sini.

Para pegawai, warga lokal dan pekerja ekspatriat beserta keluarga dengan antusias mengikuti upacara pengibaran bendera yang cukup megah itu. Beberapa ekspatriat yang terhitung tinggal 770 orang (2,57%) dari total 3.004 pekerja PTFI yang memakai batik dan berkebaya dengan khidmat mengikuti upacara berbaur dengan pekerja dan warga lokal.

"Karena waktu Papua lebih cepat dua jam dari Jakarta (WIB), kita bisa menggelar dua kali upacara. Di sporthall untuk penaikan bendera dan di tambang DMLZ untuk detik-detik proklamasi," kata Maroef.

Untuk mencapai area tambang bawah tanah tersebut, dengan kendaraan dobel gardan para pegawai dan peserta upacara mendaki jalan berliku menembus hutan sekitar 30 menit sebelum menelusuri terowongan sepanjang 7,5 kilometer yang dibangun dengan menembus gunung. Sejatinya jalur-jalur penghubung di dalam tambang bawah tanah itu mencapai panjang hingga 500 km.

Upacara kedua yang digelar lebih sederhana ini pun diikuti ratusan karyawan dengan seragam lapangan lengkap. Mereka tampak gembira karena bisa menggelar acara tersebut.

"Kami tentu senang karena ini kali pertama upacara HUT RI digelar di DMLZ, dihadiri pula oleh direksi. Ini proyek kebanggaan kami karena 100% pekerja asal Indonesia yang membangun tambang bawah ini," ujar Vice President of Underground Mine Operations PTFI, Hengky Rumbino.

Putera aseli Papua berusia 36 tahun asal Biak ini adalah aktor utama di balik keberhasilan tambang bawah tanah DMLZ yang akan beroperasi mulai 15 September 2015 itu.

Alumni Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu memimpin puluhan insinyur tambang asal Papua dan ribuan pekerja domestik menggarap DMLZ, proyek perluasan tambang bawah tanah yang kini tercatat sebagai yang terbesar di dunia. Sebelum adanya DMLZ, Freeport telah mengoperasikan tambang Deep Ore Zone (DOZ) yang berkontribusi terhadap produksi bijih rata-rata 117.965 ton per hari bersama tambang terbuka Grasberg.

Di area tambang bawah tanah PTFI masih memiliki cadangan mineral berupa tembaga, emas dan perak di Grasberg Block Cave, Kucing Liar, dan Big Gosan yang diperkirakan mencapai 2,3 miliar ton.

Setiap hari setidaknya ada 1.800 orang yang bekerja di tambang-tambang bawah tanah itu. Oleh sebab itu, fasilitas untuk para pekerja tambang di bawah tanah tidak kalah dengan yang berada di permukaan. Ada tempat makan prasmanan, klinik, masjid, gereja, hingga ruang gawat darurat yang bisa menampung hingga 300 orang pekerja dengan stok makanan yang cukup untuk bertahan selama tiga hari jika terjadi resiko pekerjaan tambang.

Dalam sambutannya, Maroef mengajak karyawan PTFI menjadikan Freeport sebagai perusahaan tambang kelas dunia berlandaskan good and clean management dan green industry.

"Ini supaya Freeport memberi nilai tambah pada pembangunan ekonomi nasional, khususnya kesejahteraan masyarakat Papua," katanya.

Maroef mengingatkan, saat ini Freeport tengah menghadapi ujian, antara lain penurunan harga komoditas, keperluan investasi untuk kelanjutan produksi pada tambang bawah tanah dan perluasan kapasitas pabrik pemurnian dan pengolahan (smelter) di Gresik, Jawa Timur serta belum adanya kepastian persetujuan pemerintah terkait perpanjangan kontrak karya yang akan berakhir pada 2021.

Sebelumnya, saat berdiskusi dengan para pewarta dari Jakarta, Timika dan Jayapura, ia menegaskan bahwa PTFI saat ini sudah merupakan aset nasional walaupun dimodali oleh Amerika Serikat. Ini karena hampir semua pekerjanya merupakan putra-putra bangsa dan telah memberi dampak besar bagi ekonomi lokal dan nasional. Maroef mengaku heran dengan perranyaan seputar peran Freeport bagi Indonesia.

"Saya yakin bahwa Freeport merupakan aset nasional, walaupun ada pendanaan investasi asing. Itulah sebabnya setiap tanggal 17 Agustus perusahaan kami selalu serius menggelar serangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI di semua lokasi kerja Freeport, baik di Papua dan Jakarta," kata Maroef.

Dia menyebut beberapa faktor mengapa Freeport telah menjadi aset bangsa.

Salah satunya dari segi penjualan. Sebanyak 58%58dari dari produk konsentrat tembaga Freeport, kata Maroef, disalurkan untuk memenuhi permintaan domestik. Lalu, hampir semua pekerja perusahaan tambang ini adalah warga Indonesia. "Dari total 30.004 pekerja, lebih dari 97,43% adalah karyawan nasional dan ada 7.772 warga Papua di dalamnya. Baru sisanya 2,57% adalah karyawan asing," kata Maroef.

Dia juga memperingatkan bahwa raksasa tambang ini telah memberi sumbangsih besar bagi pendapatan nasional maupun lokal berbasis Produk Domestik Bruto. "Kami menyumbang 0,8% bagi PDB Indonesia, dan 37,5%5dari dari PDRB Provinsi Papua, bahkan menyumbang 91% dari dari PDRB Kabupaten Mimika," kata Maroef.

Lalu, selama puluhan tahun perusahaan yang dia pimpin sudah menerapkan sejumlah program pemberdayaan masyarakat, baik di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi berbasis desa, dan infrastruktur.

Maka, Maroef mengaku tidak bisa terbayangkan apa jadinya bila Freeport pada suatu saat harus menghentikan produksi di Indonesia lantaran kontrak karyanya, yang akan berakhir pada 2021, tidak diperpanjang.

"Kalau Freeport tidak lanjut, akan ada permasalahan, tidak saja bisnis, namun juga dari segi sosial, ekonomi, dan politik," kata Maroef.

Tapi dia tetap optimistis pemerintah RI akan memberi pertimbangan yang matang untuk menghindari dampak-dampak yang tidak diinginkan itu.

Ini juga sejalan dengan investasi yang sudah ditanamkan PTFI sebesar US$4 miliar serta rencana investasi berikutnya sebesar US$15 miliar dan US$2,3 miliar untuk pembangunan smelter.

Vice President of Corporate Communications PTFI, Riza Pratama menambahkan Freeport juga telah meningkatkan setoran royalti kepada pemerintah Indonesia. Sebelumnya, royalti untuk negara sebanyak 3,5% dari tembaga, 1% dari emas, dan 1% dari perak. Namun, sejak Juli 2014 ditambah menjadi 4% dari tembaga , 3,75% dari emas dan 3,25%dari perak.

"Kami juga berkomitmen mematuhi persyaratan yang diatur dalam Undang-undang Mineral dan Batubara 4/2009 tentang penyesuaian kontrak karya terkait pengurangan luas wilayah kerja, pningkatan penggunaan barang dan jasa dalam negeri dan pembangunan smelter," tandasnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya