Muktamar NU, KH Imam Aziz: Tugas Kami Melayani Muktamirin
Syarief Oebaidillah
05/8/2015 00:00
(MI)
KH Imam Aziz, ketua Panitia Nasional Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33, menyambut gembira antusiasme para muktamirin yang menyambangi Jombang, Jawa Timur. Namun demikian sebagai panitia ia juga menyadari masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan.
''Kami sudah berusaha keras. Rasanya kami juga menyadari jika masih terdapat komplain namun kami sadar kalau tugas kami sesungguhnya adalah melayani para muktamirin yang hadir di sini,'' kata Imam Aziz yang juga menjabat sebagai salah satu ketua di PBNU ini melalui rilis yang diterima pers,kemarin.
Untuk sebuah gelaran sekelas Muktamar tentunya banyak hal yang dibutuhkan. Namun ia yakin para muktamirin menghadiri acara ini bertujuan untuk membawa NU menjadi lebih baik.
''Jadi kami yakin dengan segala keterbatasan pelayanan selama muktamar ini akan bisa diterima pula secara baik oleh para muktamirin,'' ujar ulama jebolan dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.
Niat untuk melayani dari Imam Aziz ini sesungguhnya tak lahir secara instan. Sebagai kader yang lahir dari rahim NU, ia menyadari organisasi ini harus bisa lebih baik dan maju. Aktivitasnya dengan organisasi ini telah dimulainya sejak masih kecil.
Pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, pada 1962 ini telah merintis pendidikan formalnya dengan menimba ilmu di madrasah milik KH Ahmad Sahal.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan itu dengan berkuliah di IAIN Sunan Kalijaga pada dekade 1980-an.
Gairahnya untuk membawa NU menjadi lebih terbuka ditunjukkan juga dengan pendirian Lembaga Kajian Islam Sosial (LKIS) pada 1993. Aktivitas tersebut ternyata mengantarkannya kepada penghargaan seperti Ashoka Fellowship pada 2003. Ia didaulat sebagai tokoh multikultural oleh organisasi bernama Islamic Fair of Indonesia (IFI) pada 2011.
''Saat itu kami di LKIS mengembangkan wacana keislaman yang transformatif dan toleran, khususnya melalui penerbitan ratusan judul buku yang konsisten dengan visi keislaman yang transformatif dan toleran,'' kenang dia.
Pada April 2015, ia juga kembali mendapatkan penghargaan dari dunia internasional. Sebuah lembaga dari Korea Selatan bernama Yayasan Perdamaian Jeju memberikannya penghargaan atas kegigihannya membela kelompok minoritas dan tertindas. ''Ke depan NU harus lebih mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam yang toleran,''pungkasnya.(Q-1)