Kecelakaan Hercules, Panglima Akui Alutsista Indonesia Cukup Tua
Damar Iradat/Renatha Swasthy
02/7/2015 00:00
(MI/ M. Irfan)
TNI masih akan terus mengevaluasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) menyusul kecelakaan Pesawat Hercules C-130 TNI AU di Medan Sumatera Utara. Dikonfirmasi, alat angkut milik TNI sudah cukup tua.
Panglima TNI Jendral Moeldoko mengakui alutsista, khususnya alat angkut seperti pesawat, sudah cukup tua. Namun, karena perawatan berkala, TNI menganggap alat-alat tersebut masih layak digunakan.
"Sementara akan dievalusi lagi. Kekuatan Hercules keluaran tahun 60-an itu digunakan dari tahun 64. Kedua, Hercules angkatan 78 jumlahnya ada sekitar 12. Kemudian, keluaran 80-an ada sekitar 6. Jadi, memang alutsista kita, khususnya alat angkut cukup tua," jelas Moeldoko di Ruang Tamu Panglima TNI, Jalan Medan Merdeka Barat, Kamis (2/7).
Kendati begitu, Moeldoko mengapresiasi kinerja para prajuritnya yang berhasil merawat Hercules-Hercules tua tersebut hingga masih layak pakai.
"Tapi, anak-anak bekerja luar biasa untuk memoles Hercules-Hercules itu. Sebenarnya, dari hitungan perawatan, masih layak terbang," tuturnya.
Wakasau TNI AU Marsdya Bagus Puruhito juga menegaskan di Indonesia tidak mengenal usia maksimal sebuah alat angkut bakal diberhentikan.
"Penghentian operasi sebuah pesawat, ada hitungan teknis seperti tahun, jam terbang. Tapi, kami lebih utamakan pesawat itu layak atau tidak, tentu ada upgrade terus, tidak baru beli lalu dibiarkan begitu saja," jelas Bagus kepada wartawan.
Untuk penilaian layak atau tidaknya sebuah pesawat, menurut Bagus bisa dilihat structurenya bagus,engine, radionya bagus, semua fasilitas di dalam pesawat itu bekerja dengan baik. "Kalau pesawat itu terbang pasti sudah layak dan sudah dilakukan pemeriksaan," katanya.
Hal ini juga diamini oleh Moeldoko. Terkait Hercules C-130 yang jatuh kemarin, sebetulnya pesawat dinilai masih layak terbang.
"Hercules C-130 kemarin tadinya jadi tanker. Tapi karena sudah tidak digunakan berubah cargo. Sehingga secara kilometer masih muda usianya," pungkasnya.
Seperti diketahui, Pesawat Hercules C-130 TNI AU jatuh di Jalan Letjen Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara, Selasa 30 Juni 2015, pukul 11.48 WIB. Pesawat jatuh setelah dua menit lepas landas dari Pangkalan Udara Soewondo, Medan. Tim Minta Waktu Identifikasi
Sementara itu, Tim gabungan masih terus bekerja keras melakukan identifikasi terhadap jenazah korban Hercules C-130. Tim minta waktu pada keluarga lantaran saat ini secara visual korban sulit dikenali.
"Beri waktu kita melakukan tugas identifikasi. Kita pahami bersama kondisi jenazah secara visual sulit kita kenali. Sehingga prosesnya harus lewat identifikasi," kata Kapusdokkes Tim DVI Polda Sumut Kombes Arthur Tampi di RSUP Adam Malik, Medan, Kamis (2/7).
Untuk itu, Arthur menjelaskan tim harus melakukan identifikasi yakni dengan menyamakan antara data ante mortem yang sudah diberikan keluarga dengan jenazah yang ada.
"Hasil pemeriksaan antem mortem dan jenazah akan kita rekonsiliasikan. Ketika ada kecocokan maka kita nyatakan dia teridentifikasi," pungkas Arthur.
Tapi, lanjut Arthur bila sulit diidentifikasi maka perlu proses lebih jauh yakni tes DNA. Dalam melakukan tes DNA tak semuanya berjalan cepat.
Apabila mudah kata Arthur dalam 2x24 jam jenazah sudah bisa diketahui identitiasnya. Tapi bila sulit akan memakan waktu lama.
"Artinya bahwa dengan proses DNA yang paling cepat adalah 2 hari. Yang sulit bisa sampai 1 minggu, 1 bulan. Karena iu mohon pemahaman karena prosesnya seperti itu," lanjut Arthur.
Sebelumnya, Kepala Staff TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna yang sebelumnya berkunjung ke pos ante mortem yang berada di RSUP Adam Malik mengatakan hingga Rabu (1/7) sudah ada 56 jenazah yang diidentifikasi.
Adapun, ke 56 itu didapat dari 91 jiwa yang berhasil didapat dari tempat kejadian di Jalan Letjen Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara. Sedang, masih ada 50 kantong lainnya yang berisi potongan.
Sementara itu, hingga saat ini Agus mengatakan jumlah penumpang seluruhnya ialah 133 penumpang dengan 12 kru dan 110 penumpang. (Q-1)