Media Sosial Cerminan Realitas

Vic
16/6/2015 00:00
Media Sosial Cerminan Realitas
()
PERCAKAPAN di media sosial, khususnya di Twitter, pada tingkat tertentu merupakan cerminan realitas perbincangan yang terjadi di ruang publik. Sehingga, percakapan di media sosial dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk memprediksi tingkat popularitas seseorang.

Hal itu terungkap berdasarkan hasil studi yang dilakukan Dewan Pers dan Indonesia Indicator, dengan dukungan Kedutaan Denmark. Hasil studi yang dilakukan berdasarkan penelusuran percakapan di Twitter pada periode 4 Juni-9 Juli 2014, itu dipresentasikan, di Jakarta, Selasa (16/6).

Dalam acara yang dibuka Ketua Dewan Pers Bagir Manan dan dihadiri Dubes Denmark Casper Klynge, itu menghadirkan tiga narasumber yaitu Nezar Patria (anggota Dewan Pers), Roby Muhamad (sosiolog UI) dan Samuel Pangerapan (APJJII).

"Studi ini untuk mendapatkan pemahaman mengenai dampak perkembangan dan potensi meningkatnya pengguna media sosial dalam dialog politik," ujar Nezar Patria.

Dari penelitian itu didapatkan, pada pilpres tahun 2014 lalu terdapat 1.800.000 akun Twitter aktif yang melakukan posting yang mencapai 13.934.320 jumlah kicauan. Dari jumlah itu terdapat 50.286 akun perorangan dan 211.752 tweets yang disaring untuk mengidentifikasi demokrasi dan kecenderungan memilih sampel.

Dari hasil studi diperoleh jumlah dan pola pendukung dua kandidat pasangan. Sebagai contoh, disebutkan dari total 50.286 akun yang menjadi sampel, 50,66% memilih Jokowi-JK sementara 41,68% untuk Prabowo-Hatta dan 7,66% tidak menjawab. Perhitungan ini tidak berbeda jauh dengan perhitungan resmi KPU yang mengumumkan perolehan suara Prabowo Hatta 46,85% sedangkan Jokowi-JK 53,15%.

Dengan hasil yang dapatkan, Nezar menilai media sosial dapat menjadi ruang publik baru untuk berbagi informasi, dialog, dan berdiskusi. ''Kampanye melalui media sosial sendiri terbukti efektif untuk mempengaruhi para pemilih," ujarnya.

Narasumber lainnya, Roby Muhamad, mengatakan pembangunan opini di media sosial sangat efektif dalam berpolitik. Namun hal itu memerlukan waktu yang lama dan trik yang khusus.

Sementara itu, Dubes Denmark Casper Klynge mengatakan Twitter merupakan salah satu media sosial di dunia yang bisa digunakan secara efektif selama proses Pemilu, untuk melawan korupsi, mengangkat masalah sosial, bahkan dipakai dalam diplomasi modern.

''Sebagai Dubes Denmark, Twitter adalah salah satu sarana penting yang saya gunakan untuk berhubungan dengan warga Indonesia dan Denmark,'' ujarnya.(Vic)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya