Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 20 anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Republik Indonesia melakukan walk out dalam Rapat Paripurna DPD kemarin karena mempertanyakan legalitas pimpinan DPD yang memimpin sidang.
Kekisruhan bermula saat tiga pimpinan DPD, yaitu Oesman Sapta Odang (OSO), Darmayanti Lubis, dan Nono Sampono, memasuki ruang sidang dengan agenda penyampaian hasil laporan reses pada pukul 13.30 WIB. Mereka disambut interupsi yang dimulai senator Riau, Intsiawati Ayus, yang meminta penjelasan soal dualisme di DPD antara kubu Oesman dan kubu GKR Hemas.
Tindakan tersebut diikuti senator asal Jambi, Juniwati Masjchun Sofwan, dan senator Bengkulu, Eni Khairani, yang juga mempertanyakan masalah serupa.
Namun, Oesman tidak menanggapi hal itu dan lebih menyoroti kehadiran peserta sidang. “Saya lihat yang hadir baru 36. Saya pikir sidang diskors 15 menit,” kata Oesman sambil mengetukkan palu dalam sidang yang berlangsung di Gedung Nusantara V, kompleks parlemen Senayan, Jakarta, tersebut.
Interupsi terus terjadi meski sidang sempat diskors sampai dua kali dan akhirnya mikrofon di meja anggota dimatikan.
Sejumlah anggota DPD seperti Endah Khairani, Denty Eka Widi Pratiwi, Nurmawati Bantilan, Juniwati Masjchun Sofwan, dan Anna Latuconsina kemudian membentangkan poster bertuliskan, antara lain, ‘DPD Wajib Taat Hukum’, ‘Tegakkan Marwah DPD’, dan ‘Tolak Pimpinan Ilegal’.
Keluar sidang
Sebanyak 20 anggota DPD akhirnya memutuskan keluar dari ruang sidang dan berkumpul di ruang tunggu pimpinan DPD untuk melakukan rapat tertutup bersama Ketua BPK Harry Azhar Azis. Mereka meminta Harry Azhar tidak menyampaikan ikhtisar BPK 2016 dan tidak menyerahkan laporan BPK yang memang menjadi salah satu agenda sidang. Permintaan itu ditolak Harry Azhar.
Setelah itu, para anggota tersebut menyerahkan laporan hasil reses kepada pimpinan DPD terdahulu, yakni GKR Hemas dan Farouk Muhammad.
“Kami ingin klarifikasi penggunaan tata tertib dalam rapat paripurna. Selain itu, banyak anggota yang tidak hadir sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan DPD,” ungkap Anna Latuconsina.
Anggota DPD dapil DIY, Cholid Mahmud, menegaskan tidak akan pernah menghadiri rapat di DPD selama dualisme kepemimpinan itu belum selesai.
Dalam menanggapi kekisruhan itu, Oesman Sapta menilainya sebagai skenario belaka. “Itu kepremanan. Terbalik, siapa yang preman sekarang? Teriak-teriak seperti anak kecil. Sudah cukuplah. Untung kawan-kawan ini sabar semua, tidak terpancing.”
Oesman juga menganggap tidak ada dualisme kepemimpinan di DPD RI. “Anda lihat, pemerintah datang dan kita diundang juga di acara resmi. DPD RI hanya satu di Republik Indonesia,” tukasnya.
Sementara itu, Farouk menyatakan bakal menindaklanjuti laporan reses dengan memasukkan ke Kesekjenan DPD.
Hemas dan Farouk masih yakin sebagai pimpinan DPD yang sah karena Hemas membuka rapat pada 3 April 2017 dan menyampaikan soal pencabutan Tata Tertib No 1 Tahun 2016 dan 2017 tentang DPD oleh Mahkamah Agung. Itu berarti kursi pimpinan masih dipegang mereka berdua.
“Setelah itu sidang saya tutup. Berarti tidak ada lagi yang dibuka,” tandas Hemas. (AT/Mtvn/Ant/X-11)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved