Kesenangan Lebih dengan Celerio

MI
18/6/2015 00:00
Kesenangan Lebih dengan Celerio
(MI/INSAN)
PERTAMA kali membaca data spesifikasi Suzuki Celerio saat peluncurannya pada awal Juni, saya sudah dibuat tersenyum senang. Sebuah city car 1.000 cc sudah dilengkapi fitur keamanan anti-lock braking system (ABS), pun transmisi otomatis continiously variable timing (CVT).

CVT biasanya ditemukan di mobil-mobil berbanderol di atas Rp200 juta dengan kapasitas mesin lebih dari 2.000 cc. Itu yang membuat saya penasaran dan terus bertanya-tanya bagaimana 'rasanya' mobil kecil berteknologi CVT tersebut.

Pertanyaan itu akhirnya terjawab saat Kamis (11/6) lalu, saya berkesempatan menjajal mobil kompak yang diterjunkan ke pasar otomotif Indonesia bersamaan dengan New Swift GS itu. Begitu masuk ke kokpit, saya yang bertinggi badan 171 cm disambut ruang kaki relatif lega untuk ukuran city car.

Hal itu juga terasa saat saya berpindah sejenak di kabin baris kedua. Masih ada jarak sekitar 10 cm antara lutut dan kursi bagian belakang meski sebelumnya saya telah memundurkan kursi pengemudi.

Kepala Divisi Pengembangan Produk PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Donny Saputra menjelaskan kelegaan kabin menjadi konsep pengembangan Celerio selain lekuk bodi dinamis dengan hambatan udara 0,3 serta penyematan fitur-fitur berkelas.

Kelegaan kabin diusahakan melalui titik duduk (seating point) antara penumpang depan dan belakang sejauh 173 mm, juga desain kursi depan yang dibuat sedemikian rupa demi memberi ruang lebih bagi lutut. Lainnya ialah kelegaan bagasi berkapasitas 254 liter.

CVT memberikan jeda perpindahan gigi nan halus dan hampir tidak terasa saat saya mengitari area Sentul City, Bogor. Hanya, seperti mobil-mobil bertransmisi CVT lain, respons Celerio dalam berakselerasi relatif lamban.

Saat saya menginjak pedal gas sedalam mungkin (kickdown), putaran mesin tidak langsung melesat dan tertahan di 6.000 rpm seperti transmisi otomatis pada umumnya, tetapi masih naik perlahan menuju rpm tersebut. Meski demikian, CVT memiliki kelebihan dalam efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jika dibandingkan dengan transmisi otomatis biasa.

"Konsumsi BBM, berdasarkan dyno test laboratorium internal Suzuki, ialah 21,3 km/l untuk transmisi manual dan 19,8 km/l untuk transmisi otomatis," klaim Donny.

Suspensi depan MacPherson strut dan suspensi belakang torsion beam dengan coil spring terlampau lembut. Body roll mobil seharga Rp146 juta-Rp158 juta ini terasa sekali kala membelok atau menikung.

Cruise control
Seusai mencoba Celerio, saya pun berpindah ke belakang kemudi New Swift GS. Inilah saatnya mencoba cruise control yang menjadi salah satu fitur terbaru New Swift GS.

Cruise control, yang cuma ada di varian GS transmisi otomatis, berfungsi setelah kecepatan 40 km/jam. Pengaktifannya dilakukan dengan memencet tombol 'cruise' di sisi kanan setir dan 'Set-' setelah spedometer berada di kecepatan yang diinginkan.

Untuk menaikkan kecepatan dalam mode 'cruise', cukup menekan tombol 'Res+'. Adapun untuk menurunkannya dilakukan dengan menekan tombol 'Set-'.

"Setiap 'Res+' ditekan, kecepatan akan bertambah 1,6 km/jam. Kalau ditekan dan ditahan akan ada proses kickdown," papar Kepala Divisi Teknis dan Kualitas Servis SIS Toto Yulianto soal mobil Rp223,5 juta itu. (Xan/S-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya